Penggunaan Media Berita Pada Remaja, Implikasi Terhadap Kognisi Politik

Berita tentang politik dan pemerintahan berisi hal hal yang jauh dari kehidupan sehari hari anak di US, namun usaha untuk menyatukan simbol politik dan label tertentu tersaji setiap harinya, semisal wajah presiden, nama partai politik (parpol), serta kata kata mengenai suatu masalah sangat sulit untuk dihindari pada media tempat anak anak masa kini bertumbuh kembang. Sebagai remaja, kebanyakan anak muda sudah memiliki pengalaman yang cukup dengan informasi politik, yang berperan penting dalam orientasi kognitif mereka. Review terbaru (Chaffe, 1978. Kraus dan Davis, 1976) mengemukakan peran penting media massa sebagai agen sosialisasi politik. Sebagai peneliti komunikasi, penting bagi kita untuk menentukan proses dimana para remaja belajar menggunakan media berita.

Pertanyaan mendasar yang diberikan pada bahasan ini adalah, apakah terdapat progresi perkembangan sistemik pada pola penggunaan media berita selama masa remaja. Kita akan memeriksa 1.kemungkinan faktor anteceden. 2.perilaku komunikasi lainnya yang mungkin berkaitan. 3.pengaruh spesifik dalam area kognitif politik. Semua hal tersebut dapat membantu menilai kevalidan keseluruhan hipotesis bahwa terdapat pengaruh fungsional dari penggunaan media berita, melalui medium ke medium yang bersifat kumulatif.

Pengaruh Tingkat Penggunaan Media Pada Remaja

Pengaruh media secara statistik telah didapatkan selama beberapa tahun dalam studi pemilih dewasa pada pemilihan umum (pemilu). Campbell, Converse, Miller dan Stokes (1966) menekankan bahwa aliran informasi politik bervariasi antara pemilu ke pemilu lainnya, antara kantor besar dan kecil dan terutama antara satu orang dengan yang lainnya. Mereka juga berpendapat bahwa perbedaan individual pada kelompok terakhir di atas membentuk pola teratur yang mendekati skala Guttman. Kebanyakan pemilih menerima informasi kampanye terutama melalui radio dan televisi di urutan kedua, sebagai media paling umum saat itu. Secara berurut, lebih sedikit orang yang menerima dari koran atau majalah. Hubungan antar media cenderung bersifat kumulatif, mengingat mereka yang menerima informasi dari media cetak kebanyakan juga menerima informasi dari media elektronik.

Kita menduga bahwa pengaruh empiris tersebut diantara orang dewasa berawal dari faktor fungsional dan kemungkinan yang terjadi selama proses perkembangan pada periode akhir masa kanak kanak serta remaja. Dipelopori oleh psikolog anak, plager (1962), beberapa peneliti komunikasi mengemukakan teori bahwa perkembangan keahlian media selama masa remaja meliputi perubahan dari operasi konkrit ke operasi formal (Wackman dan Wartella, 1977). Salomon (1979), telah berfokus pada pentingnya periode penguasaan kemampuan kognitif yang terlibat dalam kemampuan membaca. Ia berhipotesis bahwa ketergantungan terhadap media siar, akan mengurangi kesempatan untuk melatih kemampuan mental yang diperlukan untuk penggunaan media cetak secara penuh pada remaja. Konsekwensi yang mungkin terjadi adalah beberapa remaja hanya mencapai tingkat awal pada perkembangan kumulatif pada berbagai macam media. Sehingga perkembangan pribadinya tidak sampai kepada penggunaan radio dan televisi sebagai saluran komunikasi politik. Remaja lainnya, yang telah menguasai keahlian dalam membaca secara mendalam, mampu memperluas jangkauan mereka lebih dalam ke dunia politik melalui penggunaan koran dan majalah.

Terdapat dua perbedaan yang nyata antara dua kelas media tersebut dalam kaitan seberapa besar seseorang harus terlibat di dalamnya. Menikmati radio dan televisi tidak begitu membutuhkan kemampuan yang harus dipelajari di masa kecil, selain itu mereka biasanya menyediakan berita dalam bentuk yang ringan dan mudah dicerna Banyak anak muda yang mendapat berita melalui media penyiaran hanya karena beritanya kadang muncul (biasanya pada radio) atau karena orang lain menyalakan nya (biasanya pada televisi. Penggunaan media cetak, sebaliknya, memerlukan suatu tingkat motivasi dan minat spesifik, dan koran serta majalah memuat banyak topik berita yang lebih detail yang kadang tidak bisa dimengerti oleh pembaca pemula. Tahap permulaan perkembangan progresi, oleh karena itu, dalam banyak kasus dibatasi pada media penyiaran. Televisi, dapat dianggap sebagai media universal, dalam hal penggunaannya yang sangat luas, adalah kandidat yang logis sebagai penyampai berita pada masa awal. Radio, meskipun sebagai sumber berita yang penting bagi banyak remaja, kesempatan pendengar untuk mendapatkan berita terlalu beragam untuk dapat ditebak perannya dalam progresi invarian. Kita bisa beranggapan bahwa radio setara dalam hal kemudahan penerimaan berita serta kesederhanaan isi beritanya. (Beberapa orang berpendapat, bahwa radio sebagai media mono, lebih sukar dipakai ketimbang televisi yang menyiarkan suara sekaligus gambar visual). Kita juga dapat beranggapan bahwa radio lebih banyak dipakai oleh remaja yang belum memiliki pola teratur mengkonsumsi berita di televisi, atau remaja yang banyak memiliki aktivitas di luar rumah ketika semakin tua.

Tahap selanjutnya dalam hipotesis progresi setelah media penyiaran akan diisi oleh penguasaan kebiasaan membaca koran harian secara teratur dan mungkin membaca artikel majalah mengenai politik. Urutan koran majalah dapat ditemukan secara empiris ketimbang majalahkoran, bahkan probabilitasnya juga begitu. Tiga perempat rumah tangga yang memiliki anak muda berlangganan koran harian, sementara hanya seperempat yang mendapatkan majalah berita mingguan. Apakah operasi kognitif satu medium lebih menuntut daripada yang medium cetak lainnya tidak bisa ditentukan, karena majalah berisi berbagai macam berita, dari yang sederhana sampai berita dan informasi politik yang kompleks.

Urutan hipotesis kita secara keseluruhan, yaitu radio, televisi, koran, majalah bisa dibagi dua berdasarkan alasan tertentu. Yang pertama, terdapat pengharapan yang luar biasa terhadap perkembangan urutan media penyiaran cetak, berdasarkan asumsi bahwa media cetak memerlukankeahlian kognitif yang lebih tinggi dan minat, dengan tambahan memiliki dasar pengetahuan yang luas, penggunaannya memiliki pola secara rutin. Yang kedua, di dalam media penyiaran maupun media cetak, terdapat probabilitas empiris yang mengarahkan kita untuk mendapatkan urutan media spesifik yang menonjol. Dalam lingkup penggunaan media penyiaran, televisi adalah media yang paling ringan, sehingga seharusnya menjadi media yang digunakan pertama kali oleh remaja secara teratur pada awalnya, yang lainnya akan lebih condong kepada penggunaan radio. Untuk mereka yang mencapai tingkat yang lebih maju, dimana mereka telah memperoleh kompetensi keahlian membaca yang handal dan memiliki dasar pengetahuan mengenai masalah publik yang luas dalam kemampuannya untuk mengkonsumsi berita penyiaran, kita memperkirakan koran akan menjadi pintu pertama yang lazim. Koran tersedia secara luas dan diterima lebih sering, isi beritanya nya juga mungkin serupa dengan radio atau televisi dibanding majalah, sehingga mempermudah peralihan dari tingkat penyiaran kepada cetak. Tentu saja, akan terdapat kasus dimana tingkat koran akan terlewati (semisal keluarga yang tidak berlangganan koran), sehingga peralihan akan terjadi dari media penyiaran ke majalah selama masa remaja.

Model konseptual kita bersifat kumulatif dalam perolehan pada setiap urutan tingkatan yang terlalui, sehingga jika berada di tingkat yang lebih tinggi, bisa dianggap telah menguasai tingkatan sebelumnya. Setiap tingkatan tersebut dapat dipandang mewakili pola perilaku yang stabil. Hal ini berarti bahwa setiap orang, pada tingkatan manapun, bisa menetap atau terus berkembang ke tingkatan selanjutnya dan menunjukkan pola perilaku yang berkaitan dengan tingkatan tersebut. Pada orang dewasa, kita seharusnya menemukan adaptasi perilaku yang matang pada setiap tingkatan tersebut, yang mana banyak diantara remaja seharusnya terus berkembang menuju tingkatan yang lebih tinggi, dengan fluktuasi naik dan turun sepanjang waktu dan juga berdasarkan topik berita spesifik.

Penentu Sosial dan Konsekwensi Kognitif
Perhatian kita terhadap tingkat penggunaan media berita, diperkuat oleh implikasi yang dibawanya terhadap perkembangan kognisi politik (Becker, McComb dan McLeod, 1975). Teori politik demokrat membutuhkan tingkat kesadaran warga sipil dan wawasan serta informasi politik yang mungkin terlalu rumit bagi remaja. Di atas kognisi ˮpembendaanˮˮ sederhana seperti nama tokoh politik atau partai, terdapat beberapa hubungan yang dapat dipelajari. Hal tersebut termasuk asosiasi tokoh (misalnya kandidat) dan partainya serta asosiasi yang lebih kuat antara parpol dan simbol serta posisi kebijakan yang telah tertanam (Kennamer dan Chaffee, 1982). Ketika mengusulkan perkembangan progresi media penyiaran kepada media cetak, kami secara implisit berasumsi bahwa penggunaan media cetak yang rutin lah yang lebih memungkinkan seseorang untuk memperoleh dan memelihara asosiasi kognitif tersebut di antara berbagai elemen dalam kancah politik.

Sementara konsekwensi kognitif ini akan mewakili variabel tak bebas secara langsung dalam analisis kita, efek jangka panjang dari pembedaan tingkatan penggunaan media bisa memiliki jangkauan yang lebih jauh, lebih dalam pada dunia kognitif dan affektif, lebih luas kedalam masyarakat ketika seseorang aktif secara politik dan kepada perkembangan seseorang di masa yang akan datang. Fokus kita disini akan berada pada validasi model progresi perkembangan penggunaan media pada remaja dan konsekwensi kognitif secara langsungnya. Dampak potensial sosial dan politiknya merupakan topik yang lebih besar yang akan menjadi bahasan dalam studi yang lain.

Pola penggunaan media tidak begitu saja ˮterjadiˮ pada seseorang. Mereka dapat dirunut pada faktor penentu sosial yang berakar dari variabel organismik (misalnya usia) dan faktor struktural, seperti status sosioekonomi keluarga, tingkat pendidikan keluarga dan pola penggunaan media berita. Penggunaan media berita pada remaja adalah salah satu dari elemen perilaku komunikasi pribadi sehari hari yang saling terhubung, dan ini dapat dibagi menjadi bagian yang memang nampak terutama pada masa remaja dan bagian yang dapat dirunut berdasarkan faktor faktor dalam lingkungan sosial. Perilaku organismik tumbuh langsung dari usaha berkomunikasi secara aktif sebagai bagian dari masa remaja, yang mana diantaranya yang bersifat ke lingkungan adalah inisiasi orang tua, fasilitasi atau dukungan terhadap pengalaman komunikasi bagi para remaja. Kedua kelompok komunikasi, apakah diinisiasi oleh remaja atau didukung oleh lingkungan sosial sekitar, bisa melibatkan bentuk komunikasi interpersonal maupun perantara. Dari sudut pandang perkembangan remaja, pembedaan akademis konvensional diantara komunikasi massal dan interpersonal tidak begitu berbeda.

Desain Survey dan Sampel
Populasi untuk studi ini adalah para remaja berusia sepuluh sampai tujuh belas tahun di negara bagian Wisconsin. Pada permulaan tahun 198O, sampel acak telah dihubungi oleh Wisconsin Survey Research Laboratory dengan menggunakan teknik menelepon angka acak. Seiring wawancara kepada para remaja, yang dilakukan kepada hampir seratus orang pada masing masing tingkat usia dari sepuluh hingga tujuh belas tahun, salah seorang orang tua juga secara acak dijadikan sampel dan diwawancara via telepon. Sekitar 782 orang remaja telah diwawancarai, wawancara tahap kedua dengan orang tua dilakukan kepada 718 orang, sampel final kami untuk keperluan analisis berisi 718 pasangan orang tua dan remaja untuk mendapatkan data wawancara secara penuh (N 1432 individu).

Distribusi geografik telah tersebar secara proporsional di wilayah negara bagian dengan metode telepon angka acak. Rasio gender juga dianggap mewakili, dengan 52% responden remaja adalah laki laki dan 57% responden orang tua adalah ibu (dalam keluarga utuh, responden dipilih secara acak, sementara dalam keluarga tunggal, biasanya terdiri atas ibu dan anak, sehingga jumlah ibu menonjol dalam sampel total). Melakukan wawancara via telepon memiliki kekurangan, baik dalam membuat kontak maupun mengawasi kerjasama antara orang tua dan anaknya; hasil sampel menunjukkan responden umumnya memiliki status sosioekonomiyang lebih tinggi daripada rata rata populasi umum. 32% orang tua yang diwawancarai pernah mengecap kuliah dan 53% lainnya lulus SMU. Usia orang tua berkisar antara duapuluh tujuh hingga enampuluh sembilan tahun, dengan median umur empatpuluh satu tahun.

Pertanyaan yang diajukan kepada responden remaja dan orang tua, sejauh mungkin menggunakan bahasa dan istilah yang sama untuk memungkinkan analisis data pararel. Detail kalimat pertanyaan dan prosedur statistik dijelaskan di bawah dalam hubungan dengan setiap fase analisis yang berurutan.

Analisis Skala Guttman pada Penggunaan Media Berita
Analisis skalogram yang diperkenalkan oleh Guttman dan kawan kawan (Stouffer et al, 195O) adalah metode untuk membangun skala kumulatif yang melibatkan uji keragaman (unidimensi). Tiga pengukuran terhadap paparan media berita menyediakan data mentah untuk latihan pengukuran dasar ini, yaitu jumlah hari dimana seseorang menonton acara berita pada televisi atau membaca koran serta jumlah artikel majalah mengenai politik nasional yang ia baca selama seminggu terakhir. Setelah menguji coba dengan berbagai titik batas dalam analisis pendahuluan, kami membatasi pada minimum dua hari per minggu menonton acara berita di televisi, tiga hari perminggu membaca koran dan membaca tiga artikel majalah. Ini diasumsikan sebagai pembatas terhadap tingkat penggunaan media yang lebih tinggi yang dapat atau tidak bisa diraih oleh seseorang.

Untuk menguji apakah paket tingkat penggunaan media berita ini mewakili skala kumulatif dan unidimensi, kami melakukan analisis skala Guttman secara terpisah antara responden remaja dan para orang tua. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 28.1 yang mendukung asumsi kita. Untuk kedua subsampel, skala yang dihasilkan mencapai atau melebihi tingkat minimum konvensional untuk pengulangan (.9O) dan skalabilitas (.6O). Sementara tipe error bisa saja terjadi, karena, misalnya seseorang mungkin tidak akan mengikuti berita melalui televisi setelah mencapai tingkat yang lebih tinggi pada skala, namun tipe error biasanya jarang terjadi. Diperkirakan hanya dua dari lima orang yang memiliki skor pada tingkat 1 atau 2 pada skala adalah tipe skala, karena hanya dua dari lima kombinasi skor yang mungkin yang cocok dengan logika skala (lihat catatan tabel 28.1). Secara keseluruhan, lima dari enam kasus pada kedua tingkat tersebut adalah tipe skala. Dalam hal validitas internal, skalogram mewakili progresi penggunaan media berita yang dihipotesiskan, telah lulus ujian pertamanya.

Sebagai pendahuluan, kita akan menandai setiap tingkatan dalam skala ini berdasarkan media yang lebih menonjol pada tingkatan tersebut. Tingkat O, otomatis diberi label Radio, tingkat 1 Televisi, tingkat 2 Koran dan tingkat 3 Majalah. Apakah label tersebut berlaku berdasarkan dasar empiris? Tabel 28.2 memberikan respon terhadap pertanyaan tersebut, dengan memeriksa setiap tingkatan skala, medium yang menjadi sumber berita utama mereka. (Untuk tabel 28.2 dan analisis kita yang lainnya, kita telah mendapatkan tipe error dan tipe skala dari tabel 28.1. Sebagai dampaknya, hal tersebut dianggap sebagai error acak ketimbang error spesifik, sehingga membuat uji kevalidan logika umum skala kita agaknya bersifat konservatif).

Radio secara nyata merupakan sumber berita dominan, terutama diantara para orang tua, yang telah diklasifikasikan sebagai tingkat O pada analisis skalogram kita dalam hal penggunaan media berita pada tabel 28.2. Dua analisis varian satu arah telah dilakukan di setiap baris pada tabel 28.2, satu mewakili hubungan linear diantara skala Guttman dan ketergantungan terhadap media tertentu dan yang kedua mewakili komponen kuadrat, yang bisa dibayangkan sebagai kurva simetrik sederhana. Untuk remaja maupun orang tua, komponen linear sangat signifikan dengan radio sebagai sumber berita. Penggunaan radio turun drastis seiring kenaikan tingkat skala seseorang. Bagi kelompok orang tua, terdapat komponen kurvilinearitas dalam hubungan yang kita tidak antisipasi namun menjelaskan pengurangan tajam ketergantungan kepada radio untuk orang yang berada di atas tingkat O pada skala penggunaan media berita.

Kurvilinearitas akan menjadi hubungan yang sesuai untuk membuat hipotesis televisi sebagai sumber berita, mengingat kita memperkirakan medium ini menonjol pada tingkat 1 pada skala, dimana pada pendahuluan telah kita beri label Televisi. Pemeriksaan pada tabel 28.2 mengindikasikan bahwa ini memang merupakan kasus untuk kedua subsampel. Dalam istilah yang lebih formal, komponen kuadrat adalah signifikan, dimana hubungan linear tidak signifikan pada kedua subsampel.

Ketergantungan pada koran sebagai salah satu sumber berita utama bersifat linear, bukan kurvilinear, berkaitan dengan skala penggunaan media berita (tabel 28.2). Ketergantungan pada koran tidak nampak pada remaja dan orang tua yang diklasifikasikan berada di tingkat O pada skala kita, Ia dilaporkan sebesar 1O% waktu pada tingkat 1, 2O% pada tingkat 2 dan hampir 3O% pada tingkat 3. Hal tersebut adalah progresi biasa, yang terdapat pada kedua kelompok subsampel kita dengan kekuatan yang setara, namun tidak akan mendukung penanda kita pada tingkat 2 yaitu koran, mengingat lebih banyak orang yang bergantung secara prinsip pada koran sebagai sumber berita mereka pada tingkat 3. Namun hasil tersebut konsisten dengan asumsi kita bahwa di dalam tingkat yang lebih tinggi pada penggunaan media cetak, koran akan lebih menonjol karena koran lebih tersedia untuk dibaca. Laporan yang menyatakan seseorang bergantung sepenuhnya pada majalah sebagai sumber beritanya sangat langka sehingga datanya tidak bisa nampak dalam hasil analisis pada tabel 28.2, meskipun laporan seperti itu memang terjadi dan terdapat pada tingkat yang tinggi dalam skala penggunaan media berita.

Anteseden Perkembangan Media pada Remaja
Berbekal bukti yang mendukung eksploitasi lebih lanjut skala penggunaan media berita, kita akan beranjak pada pertanyaan kondisi anteseden yang mungkin menerangkan mengapa beberapa remaja ditemukan pada tingkat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Dalam eksplorasi pendahuluan kita hanya akan memeriksa beberapa faktor besar ketimbang merunut semua variabel anteseden yang conceivable. Sebuah variabel penjelasan yang jelas adalah segi usia. Sampel kita melingkupi range usia yang lebar, antara sepuluh hingga tujuh belas tahun, dan mereka mewakili periode dimana banyak proses pematangan pribadi muncul secara normal. Selain usia, adalah kelas di sekolah (r = .95). Diantara dua ukuran tersebut, kita pilih kelas di sekolah ketimbang usia sebagai pembatas penentu lokasi tingkat perkembangan kognitif seseorang pada remaja. Dalam analisis kita selanjutnya, kita akan secara rutin memasukan kelas sebagai penentu pertama atau variabel kontrol ketika memeriksa anteseden lainnya, menghubungkan atau dampak penggunaan media berita pada remaja.

Angka pada tabel 28.1 menampilkan trend perkembangan pada tingkat penggunaan media berita dan membandingkan tingkatan tersebut pada populasi orang dewasa yang diwakili oleh sampel orang tua. Distribusi ini merujuk bahwa ketika remaja beranjak dewasa, pola penggunaan media mereka berubah konsisten dengan tanda progresi perkembangan kumulatif: proporsi individu pada tingkat yang dinamakan ˮRadioˮ dan ˮTelevisiˮ menurun secara perlahan, sementara proporsi individu pada tingkat ˮKoranˮ dan ˮMajalahˮ perlahan meningkat seiring pertambahan usia. Disamping trend tersebut, jelas terlihat bahwa tidak semua individu beranjak hingga tingkatan atas. Lebih dari seperempat orang tua tetap berada di dua tingkatan bawah

Variabel anteseden lainnya yang mungkin turut berpengaruh terhadap perkembangan penggunaan media berita pada remaja bisa diidentifikasi di dalam lingkungan keluarga. Mungkin yang paling jelas adalah tingkat penggunaan media berita orang tua itu sendiri yang turut diukur dengan skala Guttman yang sama dengan remaja (lihat tabel 28.1). Kita bisa menduga ada keterkaitan antara orangtua dengan remaja berdasarkan pembelajaran remaja dari model orang tua atau hanya karena orang tua turut menyediakan lebih banyak media berita di rumah jika mereka sendiri turut menggunakannya. Misalnya, remaja yang orang tuanya tidak membaca koran atau majalah dan mereka tidak berlangganan koran atau majalah untuk keluarganya, akan mendapat sedikit kesempatan untuk mengembangkan kebiasaan membaca berita ketimbang remaja yang memiliki banyak media di rumahnya. Mirip dengan itu, orang tua yang secara rutin menonton acara berita di televisi cenderung memaparkan anak anaknya pada berita masalah publik yang mungkin tidak akan dicari remaja. Kemungkinan lebih lanjut bahwa korelasi penggunaan media orang tua dengan remaja dapat muncul karena konsumsi media remaja menstimulasi orang tua dengan jalan yang terbalik dari bentuk pengaruh yang diterangkan di atas. Bukti dari ˮpengaruh terbalikˮ dari remaja kepada orang tua telah ditemukan pada kegiatan menonton televisi (Chaffe, McLeod dan Atkin, 1971).

Jika penggunaan media berita pada orang tua merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan media berita remaja dalam keluarga yang sama, bagaimana penggunaan media orang tua bisa dirunut? Sebagaimana halnya remaja, kita bisa menduga bahwa tingkat pendidikan orang tua memiliki dampak yang penting: banyak survey yang menunjukkan bahwa masa pendidikan orang tua merupakan salah satu penduga yang dapat diandalkan terhadap keahlian membaca, terutama pada koran (Chaffe dan Choe, 1981). Selain tingkat pendidikan, terdapat variabel tambahan berupa kelas sosioekonomi yang didapatkan. Sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah apakah mereka tergolong kelas bawah, pekerja, menengah atau atas. Penelitian lebih jauh dicoba untuk memecah kelas menengah menjadi beberapa gradasi tambahan. Variabel dua anggota keluarga yang saling berkaitan, pendidikan orang tua dan kelas sosial keluarga mungkin mempengaruhi tingkat penggunaan media berita secara langsung. Namun nampaknya kebanyakan dampaknya bersifat tidak langsung, yang berjalan melalui pengaruhnya terhadap penggunaan media berita orang tua, yang mana berpengaruh langsung terhadap perkembangan serta perilaku remaja yang berkaitan.

Untuk memisahkan dampak langsung dan tak langsung, kita melakukan analisis jalur, dimana tingkat penggunaan media berita orang tua bisa diperlakukan sebagai variabel endogen yang berpengaruh langsung terhadap tingkat penggunaan media berita pada remaja, seperti halnya kelas di sekolah. Variabel eksogen yaitu pendidikan orang tua serta kelas sosial keluarga diuji baik dampak langsungnya terhadap tingkat penggunaan media berita dan dampak tak langsungnya melalui penggunaan media oleh orang tua. Angka pada tabel 18.2 menampilkan jalan yang signifikan yang muncul dari analisis ini (trimmed model).
Seperti yang diduga, terdapat pengaruh yang kuat dari kelas terhadap tingkat penggunaan media berita pada remaja dan hampir sekuat pengaruh penggunaan media berita pada orang tua. Pengaruh yang mungkin terjadi akibat faktor yang tersebut di atas, dapat dijelaskan sebagai dampak tak langsung yang bekerja melalui penggunaan media berita pada orang tua. Ini terutama berlaku pada tingkat pendidikan orang tua dan kelas sosial keluarga, yang mana keduanya memiliki pengaruh langsung kepada orang tua namun tidak berpengaruh secara langsung kepada para remaja.

Sebuah model jalur analog digunakan untuk menganalisis anteseden dari variabel tak bebas lainnya, yaitu jumlah waktu yang dihabiskan remaja pada ˮhari biasaˮ untuk menonton televisi. Dalam studi sebelumnya (Cornstock, Chaffe, Katzman, McCombs dan Robert. 1978), kami menemukan hubungan yang kontrast dengan hasil pada tabel 28.1. Semakin tinggi kelas di sekolah bagi remaja, maka semakin sedikit waktu yang dipakai untuk menonton televisi. Juga terdapat efek negatif langsung pendidikan orang tua terhadap waktu menonton televisi remaja, serta terdapat efek negatif tak langsung (melalui waktu menonton televisi orang tua) diantara dua variabel tersebut. Hubungan langsung antara waktu yang dipakai untuk televisi oleh orang tua dan remaja bersifat positif, namun diantara penggunaan media berita orang tua dan waktu menonton televisi remaja bersifat negatif; kedua hubungan orang tua-remaja ini terbilang rendah, namun signifikan dalam analisis jalur.

Secara keseluruhan, kita bisa menjelaskan lebih banyak variasi pada skala penggunaaan media berita kita dengan variabel-variabel tersebut (R = .11) daripada analisis analog waktu yang dipakai untuk menonton televisis (R = .O7), meskipun yang terakhir merupakan salah satu pengukuran perilaku komunikasi massa yang lebih populer pada literatur empiris (Cornstock et al, 1978; Gerbner, Gross, Morgan dan Signorielli, 198O). Hal tersebut menunjukkan bahwa skala kita relatif lebih dapat diandalkan. Sementara kita tidak mengklaim telah memeriksa semua anteseden besar yang potensial untuk skala ini, kami telah memasukkan jumlah variabel yang cukup signifikan dan mendapatkan hubungannya pada faktor anteseden yang konsisten dengan penelitian yang lain. Kami kemudian akan beralih pada perilaku komunikasi yang berkaitan yang mungkin secara teoritis dipandang baik sebagai anteseden atau konsekwensi tingkat penggunaan media.

Perilaku Komunikasi yang Berasosiasi dengan Tingkat Penggunaan Media
Keterlibatan politik merupakan atribut umum dari seseorang yang menghasilkan beragam variasi dalam berbagai macam perilaku, termasuk komunikasi interpersonal maupun massal. Dengan kata lain, untuk dapat aktif dalam kancah politik, seseorang bergantung sepenuhnya pada tindakan komunikasi. Tingkat penggunaan media berita yang dicapai seseorang dapat membatasi atau malah mendukung kapasitas untuk menguasai bentuk lain dari komunikasi politik. Kami menduga bahwa penggunaan skala penggunaan berita kita akan berkorelasi positif terhadap metode pengukuran komunikasi politik lainnya.

Dua item dikotomi sederhana menggambarkan bagaimana kuatnya korelasi yang dapat terjadi. Tiap responden ditanya tentang minat mereka dalam perbincangan tentang politik: ˮApakah anda senang berbincang tentang politik, atau hanya ketika orang lain membicarakannya dengan anda?ˮ. Hanya 12 persen remaja pada tingkat O mengatakan ˮiyaˮ, bahwa mereka senang berbincang mengenai politik, namun pada tingkat 3 jumlahnya mencapai 64 persen. Ketika ditanyakan ˮApakah anda senang menonton berita televisi, atau hanya menonton berita bila orang lain menyalakannya?ˮ. Hanya 14 persen remaja pada tingkat O mengatakan ˮiyaˮ mereka senang menonton berita televisi, namun 67 persen remaja pada tingkat 3 memberikan respon yang serupa. Dalam analisis yang lebih komprehensif terhadap hubungan tersebut (tidak ditampilkan disini), kami mengontrol faktor kelas di sekolah serta orang tua dalam variabel keterlibatan politik yang sama. Hubungan antara perilaku remaja dan penggunaan media berita sangat signifikan bagi kedua item, baik item mengenai memulai pembicaraan politik (F=4O.1, p < .OO1, df =1.712) dan item mengenai keinginan untuk menonton berita televisi (F=26.6, p <.OO1, df = 1.712). Untuk item yang terakhir, terdapat pengaruh utama yang bersifat positif dari perilaku orang tua terhadap perilaku remaja (F= 7.4, p <.OO1, df = 1,712). Hal ini berarti bahwa orang tua bisa menstimulasi kebiasaan menonton pada anak remaja mereka dengan cara membuka saluran berita di televisi.

Orang tua jua mendukung tingkat penggunaan media berita yang lebih tinggi melalui diskusi interpersonal mengenai masalah politik terhadap anak remaja mereka. Pengaruh utama yang positif juga ditemukan pada analisis varian kompleks (tidak diperlihatkan) dengan faktor kelas di sekolah terkontrol untuk item pertanyaan berikut:ˮSeberapa sering kamu membicarakan masalah politik dengan (orang tua/remaja) — sering, kadang, jarang atau tidak pernah?ˮ (F= 17.O, p<.OO1 untuk pengukuran orang tua, F= 17.O, p < .OO1 untuk remaja, df= 1.711). Pengaruh yang besar juga ditemukan untuk item yang mewakili dimensi ˮorientasi konsepˮ dalam pola komunikasi keluarga (McLeod dan Chaffe, 1972): ˮSeberapa sering (memberitahu anak remaja/diberitahu orang tuamu) untuk menanyakan keyakinan orang lain dalam politik— sering, kadang, jarang atau tidak pernah?ˮ (F = 12.1, p < .OO1 untuk pengukuran pada orang tua, F= 16.O, p< .OO1 pada remaja, df = 1.7OO).

Analisis univariat ini cukup untuk membuktikan bahwa beragam perilaku komunikasi lainnya, baik pada remaja maupun orang tua, terlibat dalam perkembangan penggunaan media berita. Pengaruh orang tua lebih jelas terlihat dimana partisipasi secara langsung terjadi, baik melalui diskusi politik dengan anak remaja maupun melalui pengaruh membuka berita televisi ketika bersama dengan anak remaja.

Seperti yang telah kami duga, perkembangan penggunaan media berita dapat dilihat sebagai bagian dari proses yang lebih besar untuk memperoleh kebiasaan perilaku komunikasi politik untuk semua tipe. Untuk menguji asumsi ini kami memasukan empat korelasi yang telah dikemukakan sebelumnya, dan tujuh variabel lainnya yang memiliki karakter yang serupa dalam sebuah analisis diskriminan. Kriteria untuk dapat dimasukan dalam variabel diskriminan adalah 1. harus berhubungan dengan perilaku komunikasi aktif, baik massa maupun interpersonal dan 2. harus membawa kandungan berita atau politik. Variabel yang dimasukan dijelaskan pada tabel 28.3 yang juga memperlihatkan hasil analisis diskriminan.

Dengan homogenitas item yang ada, kita dapat menduga adanya sebuah fungsi yang menonjol dalam diskriminasi diantara keempat kelompok. Ini terbukti pada tabel 28.3 dimana Fungsi 1, menerangkan hampir 9O persen varians. Kesebelas item seluruhnya berkorelasi positif dengan Fungsi 1, namun tiga item — terutama yang berhubungan dengan penggunaan koran — lebih condong kepada Fungsi 2, yang juga secara statistik signifikan.

Yang lebih penting pada tabel 28.3 adalah pengurutan keempat tingkat penggunaan media pada dua dimensi diskriminan tersebut. Dalam analisis ini, keempat tingkat hanya diperlakukan sebagai kelompok yang berbeda, bukan dalam urutan tertentu. Analisis diskriminan mengenali kedua dimensi tersebut dengan memisahkan keempat kelompok tersebut secara maksimal satu dengan yang lain, tanpa memperhatikan sifatnya. Jika analisis diskriminasi ini digunakan untuk merubah urutan kelompok dari urutan perkembangan yang dikemukakan sebelumnya, kita akan mendapatkan bukti yang sangat kuat untuk mendukung asumsi kita bahwa skala yang kita miliki bersifat unidimensi. Pemeriksaan sentroid kelompok pada bagian bawah tabel 28.3 menunjukkan hal tersebut. Fungsi pertama dan terkuat, keempat kelompok dipisahkan dalam urutan O-1-2-3, dipisahkan dengan interval yang sama. Pada Fungsi 2, urutan O-1-2-3 juga ditemukan, meski pun jarak antara kelompok O (ˮRadioˮ) dan 1 (ˮTelevisiˮ) tidak terlalu besar. Hal tersebut masuk akal, mengingat Fungsi 2 terutama mengkaji minat terhadap berita politik pada koran dan tidak diharapkan untuk terlalu memisahkan tingkat penyiaran dari penggunaan media.

Secara keseluruhan, semua yang berkaitan dengan komunikasi tersebut mendukung secara kuat validasi asumsi kita bahwa sifat kumulatif dan progresif penggunaan media pada remaja dan karakter sistemiknya dalam kaitan keterlibatan terhadap politik secara umum. Mereka juga memberikan penerangan terhadap peran yang dimiliki orang tua dalam mendorong perkembangan tersebut. Untuk analisis final kita, kami beralih pada pemeriksaan beberapa pengaruh penggunaan media pada kognisi politik.

Pengetahuan Politik Sebagai Fungsi Penggunaan Media Berita
Beberapa tahun terakhir, mulai banyak dikemukakan mengenai kognisi politik sebagai kriteria pengukuran yang tepat untuk mengkaji dampak media berita (Becker, McCombs dan McLeod, 1975). Kumpulan indeks pengetahuan masalah politik telah terbukti menjadi hasil paparan media berita pada remaja (Chaffe, Ward dan Tipton, 197O) sebagaimana juga diantara orang tua. Pada kebanyakan studi, sedikit pembedaan diantara kategori kognisi politik yang mungkin berbeda dalam kompleksitas dan abstraksi kognitif. Satu pengecualian adalah karya Jennings dan Niemi (1974) pada pemuda. Mereka menemukan faktor intergenerasi yang cukup kuat, dengan kaitan keluarga pada penilaian terhadap pemimpin politik dan parpol, dengan sedikit atau tidak ada korelasi mengenai konsep abstrak politik. Salah satu penjelasam pada kurangnya korelasi orang tua-anak ini adalah karena anak muda tidak siap menyerap kognisi politik secara memuaskan seperti orang tua mereka yang telah memiliki pengalaman bertahun tahun untuk membangun kognisi tersebut.

Empat kategori informasi politik yang berurutan, semakin abstrak dan lebih komplek telah didefinisikan untuk analisis dampak kita. Yang pertama hanya pengetahuan mengenai nama berbagai calon presiden (capres) yang maju pada tahun 198O, dengan pengulangan pertanyaan tanpa petunjuk untuk nama capres lainnya:ˮApakah kamu ingat nama beberapa capres yang maju pada pilpres? Yang lain? Yang lain?ˮ dst. Skor (jumlah nama yang benar) mencapai nilai 11, dengan mean 4.5 untuk orang tua dan 3.5 bagi remaja. Tabel 28.4 menampilan deskripsi statistik lengkap dan hubungan antara pengetahuan dan skala penggunaan media berita.

Pengukuran kedua terdiri atas pengetahuan afiliasi partai delapan capres terkuat:ˮSaya akan membacakan nama capres yang maju pada pilpres dan untuk setiap capres yang saya sebut, beritahu saya apakah anda pikir dia seorang Demokrat atau Republikan. Yang pertama, Jimmi Carterˮ. (pertanyaan dilanjutkan dengan Ronald Reagan, Edward Kennedy, John Conally, George Bush, Gerald Ford, Jerry Brown dan Howard Baker). Jeda nilai orang tua-anak pada pengukuran asosiasi capres dan partai ini lebih tinggi ketimbang pertanyaan mengingat nama capres, dengan mean 5.1 untuk orang tua dan 3.5 bagi remaja.

Pengukuran yang lebih abstrak dilakukan dengan mengumpulkan respon yang benar pada empatbelas item, menanyakan soal partai yang diwakili oleh berbagai simbol, pemimpin pertama, dan pemilik minat politik tetap: misalnya, gajah, keledai, Abraham Lincoln, F.D Roosevelt, bisnis raksasa, kelas pekerja dll. Sampel orang tua memiliki nilai yang jauh lebis besar dibandingkan nilai para remaja, dengan mean 8.1 dibanding 5.4.

Yang paling sulit adalah pengukuran empat masalah yang berasosiasi dengan partai. Setelah ditanya posisi mereka dalam keempat masalah tersebut, yaitu peningkatan anggaran militer, penurunan anggaran untuk kesehatan dan pendidikan, perluasan pengembangan tenaga nuklir dan akses pekerjaan yang lebih luas bagi kelompok minoritas, responden diminta memilih dua parpol besar yang memiliki kebijakan yang sesuai dengan mereka. Pengukuran ini bisa diperdebatkan, meskipun jelas terlihat mayoritas orang tua mengidentifikasi Republikan dalam ketiga pilihan pertama dan Demokrat untuk pilihan keempat, dan perbedaan ini akan tertulis dalam platform yang diadopsi parpol tersebut di kemudian hari. Bagaimanapun validnya pengukuran, tidak ada kelompok yang berhasil dalam agregat, dengan skor mean kurang dari dua respon dari empat respon ˮbenarˮ baik pada orang tua maupun remaja. Pengukuran masalah berkaitan dengan parpol semacam ini jelas memerlukan tingkat penguasaan politik yang lebih luas daripada indeks yang lebih sederhana seperti pengetahuan nama kandidat, asosiasi kandidat dengan parpol dan asosiasi simbol dengan parpol.

Secara keseluruhan, masing-masing dari empat indeks pengetahuan tersebut berkorelasi secara signifikan terhadap penggunaan media berita, baik orang tua maupun remaja. Tabel 28.5 memperlihatkan mean kelompok pada setiap tingkat; koefisien korelasi dilaporkan pada table 28.6. Untuk setiap indeks, skala penggunaan media berita berfungsi dalam perbedaan yang lebih besar diantara orang tua ketimbang remaja. Hal tersebut mungkin disebabkan karena tingkat kebiasaan penggunaan pada remaja cenderung tidak bertahan lama, karena mereka memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk menyerap informasi tak langsung pada berbagai tingkatan. Perbedaan orang tua dan remaja terutama terlihat pada pengukuran pengetahuan asosiasi simbol dengan parpol, dimana penggunaan media berita memberikan perbedaan nilai sampai empat point pada orang tua. Hal ini, pengetahuan tentang empat variabel kriteria tersebut semestinya menjadi yang paling terpengaruh oleh perbedaan individual orang tua dalam penggunaan media berita, sesuai dengan dugaan kita bahwa jumlah penggunaan media sebelumnyalah yang menjelaskan perbedaan yang lebih besar antara orang tua dan remaja pada table 28.5.

Cara lain mengartikan table 28.5 adalah dalam hal perbedaan orang tua dan anak atau jurang pemisah pengetahuan intergenerasi pada setiap tingkat penggunaan media berita. Jumlah net perbedaan tersebut dilaporkan di dalam kolom, terpisah untuk setiap indeks pengetahuan. Terdapat pola yang jelas pada interaksi data, dimana jurang pemisah intergenerasi semakin melebar seiring peningkatan tingkat penggunaan media berita. Sementara pola interaktif ini ditemukan dalam keempat indeks pengetahuan, pola tersebut nampak sangat jelas pada pengetahuan mengenai simbol-simbol parpol. Dalam pengukuran tersebut, jurang permisah antara orang tua dan remaja melebar dari kurang dari 1 item pada tingkat O, menjadi lebih dari 2 item pada kelompok 1, lebih dari 3 pada kelompok 3 dan lebih dari 4 pada kelompok 3.

Temuan tersebut lebih lanjut menekankan konsep kognisi politik kita pada karakter asosiasi parpol yang bersifat kumulatif. Meskipun beberapa remaja telah mencapai tingkat penggunaan media berita setara dengan orang tuanya, mereka diduga tidak akab terlalu lama berdiam pada tingkatan tersebut. Ketika penggunaan media berita dikontrol, para remaja tersebut mampu menjawab dengan baik ˮperistiwa yang sedang berlangsungˮ mengenai kandidat capres pada tahun 198O, namun kurang memiliki pengetahuan ketika diajukan pertanyaan berorientasi parpol. Selain itu, remaja juga memiliki informasi mengenai kandidat legendaries yang menjadi simbol partai. Pengetahuan terhadap partai terutama didapatkan pada tahun pemilihan umum berlangsung dan orang tua dengan tingkat penggunaan media berita yang lebih lama tentunya akan mengakumulasi informasi yang berorientasi parpol dalam periode yang lebih lama dibandingkan anak remaja mereka.

Dampak penggunaan media berita pada informasi politik dikemukakan pada tabel 28.6m yang menyimpulkan hasilnya sebagai seri analisis regresi multi hierarki. Untuk setiap indeks pengetahuan kami memperlihatkan korelasi nol antara pengetahuan dan penggunaan media berita, kemudian koefisien regresi yang distandarkan yang mewakili hubungan dari perhitungan dimana perolehan pendidikan seseorang dikontrol dan juga koefisien regresi yang tersisa ketika semua pengaruh langsung dari penggunaan media berita (dari table 28.2) juga dikontrol. Meskipun pengurutan variabel biasa kita dalam beberapa hal bisa dipertanyakan (pengetahuan dapat memfasilitasi penggunaan media berita, begitu sebaliknya), secara statistik, ini merupakan yang paling cocok untuk menguji kekuatan hubungan bivariat.

Secara umum, korelasi media-pengetahuan nampak sangat besar pada table 28.6 meskipun mengalami penurunan pada pengukuran pengetahuan yang lebih dalam dan diantara para remaja. Menilik pada sampel orang tua, korelasi secara seragam sangat kuat diantara ketiga indeks pertama dan tetap kuat walaupun dikontrol untuk variabel anteseden; indeks ke empat, pengukuran empat item pengetahuan masalah yang berkaitan dengan parpol, juga secara signifikan berkorelasi dengan penggunaan media berita, bahkan dengan control untuk subsampel orang tua. Terdapat tren penurunan diantara para remaja pada korelasi media-pengetahuan ketika kita melihat tabel 28.6 dari tipe pengetahuan sederhana kepada pengetahuan yang lebih kompleks, Koefisien regresi dengan semua control sedikit lebih tinggi diantara para remaja (.25 vs.23 pada orang tua) pada pengetahuan mengenai kandidat capres dan setara (.22 pada kedua kelompok) pada pengetahuan asosiasi kandidat dengan parpol. Namun, pada tipe pengetahuan yang lebih kompleks (simbol-partai dan asosiasi parpol dengan masalah yang diusung), korelasi mentah tercatat lebih rendah dan koefisien regresi tidak signifikan diantara para remaja.

Tingkat penggunaan media berita seseorang adalah penentu yang penting terhadap pengetahuan politik. Mengagumkan ketika hubungan tersebut nampak, setidaknya pada informasi mengenai nama kandidat capres, bahkan ketika kami mengontrol tingkat pendidikan remaja. Sampel kami melingkupi periode panjang dalam perkembangan remaja, dari usia sepuluh sampai tujuhbelas tahun (meliputi kelas empat sampai usia kuliah dini) dan seseorang dapat menduga variasi yang beragam ini dalam kaitan pengalaman pendidikan untuk menjelaskan proporsi besar beragam variasi pada pengetahuan masalah publik.

Tingkat penggunaan media berita, yang menjadi alat penduga kuat pengetahuan bahkan ketika faktor kelas dikontrol, nampak sebagai sumber tambahan informasi politik yang kuat lebih daripada kontribusi sekolah maupun keluarga. Pada remaja, ia berperan sebagai pengenal peristiwa dan sosok politik saat itu. Orang dewasa, merujuk pada data orang tua, akumulasi informasi terkini yang terus menerus didapatkan membangun suatu pengetahuan politik yang kokoh dan lebih memuaskan. Sangat mungkin penguasaan keahlian membaca, yang memungkinkan remaja yang berkembang untuk maju ke tingkat penggunaan media berita yang lebih tinggi dengan menyediakan kondisi yang diperlukan, atau mencukupi dalam proses pemisahan jangka panjang dari sektor yang memiliki lebih sedikit pengetahuan dalam komunitas politik.

Diskusi dan Kesimpulan


Kami telah mengusulkan bahwa terdapat urutan perkembangan penggunaan media berita pada remaja, dimana penggunaan media berita penyiaran (radio dan televisi) mendahului kegiatan membaca berita cetak (koran dan majalah). Lebih lanjut, karena perbedaan probabilitas ketersediaan media, terdapat skala kumulatid empat tingkat yang mana media disusun berurutan dalam dua tipe penyajian media tersebut. Ketergantungan pada radio tergolong umum diantara mereka yang belum memiliki pola penggunaan rutin terhadap media lainnya. Sebaliknya, penggunaan majalah menjadi karakteristik pengguna jenis media lainnya. Pengurutan media dari radio, televisi, koran dan majalah berkaitan dengan hasil penemuan survey pada orang dewasa sebelumnya dan pada analisis orang tua para remaja dalam studi kita.

Sifat kumulatif keahlian penggunaan media berita tidak berarti media penyiaran akan ditinggalkan begitu keahlian membaca media cetak telah dikuasai. Penggunaan koran dan majalah, yang isi berita politiknya lebih mendalam daripada media siar, biasanya berasosiasi dengan penggunaan media siar yang kontinu. Namun, ketergantungan pada radio dan atau televisi cenderung disebabkan oleh keterbatasan: mereka bukan menjadi sebuah pilihan diantara media lainnya, namun lebih berupa kondisi yang dalam banyak kasus, berita dalam media cetak tidak mudah diakses oleh seseorang. Studi-studi yang mencoba menghubungkan, katakanlah, paparan pada berita televisi pada pengetahuan atau pengukuran kriteria lainnya mengaburkan perbedaan kritis antara ketergantungan pada televisi itu sendiri dan penggunaan televisi sebagai tambahan bagi media berita lainnya. Orang muda yang memiliki keahlian untuk mengikuti berita melalui media cetak mungkin akan membatasi perhatiannya pada televisi pada topik yang kurang menarik minatnya. Kami menduga adanya fluktuasi sepanjang waktu, dalam penggunaan berbagai media secara nyata, dimana seseorang pada tingkat yang lebih tinggi mungkin tidak akan menetap di tingkat tersebut; potensi kognitif penggunaan media cetak tetap ada, walaupun seseorang secara perilaku mungkin terlihat bekerja pada tingkat bawah. Dalam perkembangannya, kami menduga progresi kemampuan kognitif untuk dapat meningkat, sehingga beberapa anak muda akan bergerak ke tingkat yang lebih tinggi sebagai akibat proses pendewasaan.

Penggunaan media berita bukan perilaku yang muncul begitu saja dalam proses perkembangan remaja. Hal tersebut bergantung sebagian pada pendidikan seseorang serta pada kebiasaan penggunaan media berita pada orang tuanya, yang hingga batas tertentu merupakan hasil pencapaian pendidikan dan status sosioekonomi. Faktor-faktor struktural ini tidak, ˮmenerangkanˮ dampak tingkat penggunaan media berita pada perkembangan kognisi politik. Bahkan ketika variabel latar belakang seseorang dan keluarganya terkontrol, terdapat hubungan statistik yang kuat antara penggunaan media berita seseorang dan jumlah pengetahuan politik yang dimilikinya. Diantara para remaja, hubungan tersebut terutama didapati pada peristiwa politik terkini; bagi orang tua hubungan berlanjut pada akumulasi asosiasi tetap simbol dengan partai politik. Kami menduga bahwa perbedaan ini memperlihatkan masa yang lebih lama bagi orang tua untuk memperoleh pengetahuan berasosiasi pada parpol melalui media.

Tentu saja, kajian ini masih jauh dari sempurna. Kami telah menemukan sejumlah faktor yang berkorelasi dengan kuat pada penggunaan media berita, termasuk bentuk komunikasi interpersonal dan komunikasi melalui media untuk komunikasi politik. Hubungan sebab akibat bersifat timbal balik, yang mana penggunaan media berita dapat membangun pengetahuan dan merangsang komunikasi lebih lanjut, dan selanjutnya dapat berujung pada penggunaan media yang lebih ekstensif lagi. Penggunaan media berita, yang muncul sebagai progresi unidimensi pada kedua analisis, baik analisis skalogram dan analisis fungsi multidiskriminan, adalah faktor sentral dalam proses umum perkembangan keahlian kognitif yang berkaitan dengan aktivitas politik. Penggunaan rutin media cetak, yang melibatkan keahlian yang tidak dikuasai semua orang –baik dewasa maupun remaja—nampak sebagai pencapaian khusus yang penting. Dalam eksplorasi longitudinal, di masa yang akan datang, kita dapat memperjelas lebih lanjut peranan yang diperankan oleh faktor-faktor yang berbeda dalam perkembangan progresi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: