OPINI PUBLIK, PROSES KOMUNIKASI DAN PILIHAN

Penelitian komunikasi politik, seperti halnya bidang ilmu sosial lainnya, mengalami kesulitan dalam membangun konsep yang tepat terhadap tingkat sistem sosial. Konsep opini publik sebagai contohnya. Opini publik telah lama dianggap seperti jamur di musim hujan, karena mereka selalu mengiringi setiap permasalahan yang muncul ke permukaan. Meskipun definisi konseptual tingkat sistem kolektif tersebut diselubungi oleh ketidak jelasan, definisi operasionalnya telah dibatasi pada prosentase individu yang diwawancarai, yang memiliki pandangan tertentu, misalnya 60% warga dewasa di US berpendapat bahwa presiden telah bekerja dengan baik.

Secara implisit, diasumsikan bahwa suatu opini publik dapat membawa pada berbagai peristiwa sosial, misalnya seorang calon presiden akan terpilih kembali. Sayangnya, bukti pendukung asumsi tersebut tidak begitu kuat. Sentimen publik bisa berubah sewaktu waktu dan hubungan antara opini individu dan perilaku yang mengikutinya tergolong lemah (Lapierre, 1934. DeFleur dan Westle, 1963. Festinger, 1964. Wicker, 1969. Seibold, 1975). Salah satu alasan yang dikemukakan sebagai penyebab tidak selarasnya perilaku dan opini adalah adanya kemungkinan sebagian besar orang mungkin tidak menyukai pendapat tersebut (DeFleur dan Westle, 1958. Schuman dan Johnson, 1976). Kenyataan bahwa penilaian persepsi terhadap orang lain dapat tidak akurat, makin menambah rumit pengamatan terhadap hubungan opini dan perilaku. (Newcomb, 1953. Laing, phillips dan lee, 1966. Scheff, 1967. Chaffee dan McLeod, 1973). Field dan Schuman (1976) misalnya, menemukan ketidak selarasan antara persepsi terhadap opini para tetangga dengan opini yang dikemukakan oleh tetangga tersebut.

Persepsi individu terhadap orang lain dalam cakupan yang lebih luas –penilaian terhadap opini berbagai kalangan masyarakat- belum banyak dikaji. Meskipun studi keacuhan pluralistik (Schanck, 1932. Newcomb, 1961. Lipset, 1971. O’gorman dan Gerry, 1976), telah menganalisa kesalahan persepsi opini publik yang berpola, mereka gagal menemukan tingkat kesensitifan publik untuk berubah dan tren pada opini publik. Studi yang menjadi pengecualian adalah karya Noelle-Neumann (1973), yang telah menganalisa proses pembentukan opini publik dan perubahan yang terjadi seiring pengamatan individu terhadap lingkungan sosialnya, pada sebuah penelitian iklim opini publik di Jerman barat.

Neolle-Neumann mendefinisikan opini publik sebagai opini dominan yang menekan sikap dan perilaku individu lainnya untuk menurut, dengan ancaman isolasi. Dia mengasumsikan bahwa ketakutan terhadap isolasi diri (takut dirinya diasingkan atau ragu akan penilaiannya sendiri) menjadi bagian integral dari semua proses opini publik. Individu akan memperkirakan kapan mereka bisa terasingkan atau melawan arus sosial dengan cara: 1. Mengamati lingkungan sosialnya.2. Menghitung distribusi yang pro dan kontra dengan ide yang dimilikinya. 3. Menghitung kekuatan, kepentingan dan peluang keberhasilan suatu usulan atau pandangan. Perilaku tersebut penting dalam situasi yang dapat mengubah keadaan, dimana seseorang berada dalam situasi yang terdesak oleh pihak yang berkepentingan dan diharuskan untuk menentukan pilihan mereka sendiri, misalnya pada peristiwa kampanye pemilu. Ketika diterapkan pada studi kampanye pemilu, teori spiral kesunyian Noelle Neumann memiliki beberapa persamaan dengan konsep klasik fenomena kereta gandeng, dimana para provokator mencoba untuk meyakinkan kita bahwa semua anggota dalam kelompok masyarakat tempat kita berada telah menerima program politiknya, sehingga kita harus segera mengikuti opini orang banyak dan ”ikut serta supaya tidak ketinggalan kereta’ (Lee dan Lee, 1939), namun banyak analis perilaku pemilih tidak mengakui akan adanya efek tersebut. Lane (1958) menggugurkan beberapa bukti kekuatan sentimen gerbong kereta api, sementara Pool (1965) menyimpulkan bahwa terdapat sedikit bukti pendukung pengaruh efek tersebut berperan signifikan dalam pemilu di US dan setidaknya hanya menyamai kekuatan oposisi underdog. Kedua penulis tersebut tidak menyertakan bukti spesifik. Weiss (1969) telah menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti apapun, pada efek perkiraan perhitungan suara komputer, terhadap perilaku pemilih di daerah yang termasuk zona waktu pemilihan yang lebih lambat (Lang dan Lang, 1965. Mendelshon, 1965. Miller, 1965). Peneliti yang lainnya mengakui adanya efek kereta gandeng, namun menekankan beberapa kelemahan dalam teori tersebut. Patterson (1980) mengemukakan bukti yang dimilikinya dalam pilpres namun menyatakan bahwa efek hanya terjadi ketika tidak ada sentiment yang kuat secara umum dan terdapat seorang calon yang disukai masyarakat.

Meskipun terdapat persamaan keuntungan antara rumusan spiral kesunyian dan efek kereta gandeng dalam menyokong calon presiden (capres) yang diunggulkan, terdapat perbedaan konseptual yang penting diantara mereka pada proses bagaimana hal tersebut dapat terwujud. Yang pertama, teori Noelle Neumann dilandasi keinginan untuk menghindari pengaruh negatif tekanan publik ketika berada pada sisi yang kalah, sedangkan efek kereta gandeng berfokus pada sisi keuntungan yang didapat ketika berada pada sisi yang menang. Yang kedua, efek kereta gandeng dilihat sebagai efek pada akhir masa kampanye, sedangkan teori spiral kesunyian lebih nyata terlihat pada awal masa kampanye. Namun, kedua sudut pandang tersebut sama sama mengharuskan pengamat untuk menyelami opini pribadi individu tersebut untuk mengukur persepsi mereka terhadap apa yang dipikirkan oleh anggota kelompok atau masyarakat lainnya.

Penting untuk dicatat bahwa dalam teori Noelle Neuman dibedakan antara kelompok garis keras dan non garis keras. Kelompok garis keras adalah mereka yang tidak siap berkompromi, merubah opini mereka atau bersikap diam ketika berhadapan dengan opini publik (Noelle Neuman, 1973). Ia percaya bahwa kelompok garis keras terbiasa dengan pengucilan dan mungkin mendapatkan dukungan dengan mengkonfirmasi orang yang sependapat dengannya. Kita bisa menduga bahwa kelompok garis keras lebih menggunakan komunikasi interpersonal daripada yang lainnya.

Teori spiral kesunyian juga mengungkapkan hasil komunikasi lainnya. Kita bisa menduga bahwa kelompok non garis keras, yang merasa kandidat pilihan mereka akan kalah, maka penggunaan media massa maupun komunikasi secara interpersonal mereka akan sangat rendah selama masa pemilu. Karena media massa berisi jajak pendapat dan informasi lainnya yang berkaitan dengan iklim opini saat itu, maka kelompok non garis keras secara umum akan menggunakan media massa lebih banyak ketimbang kelompok garis keras.

Desain penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hipotesis iklim opini Noelle Neumann, berkaitan dengan individu penganut garis keras dan non garis keras dalam pemilu di US. Wawancara dilaksanakan secara panel terhadap 96 responden pada tiga titik waktu, dua kali sebelum pilpres, dan satu kali sesudah pilpres 1976 berlangsung. Wawancara pertama dan ketiga dilakukan via telepon, sedangkan wawancara kedua dilaksanakan secara tatap muka. Wawancara pertama dilaksanakan sebelum debat pertama capres Carter dan Ford pada bulan september, yang kedua pada akhir oktober dan yang ketiga dilakukan seminggu setelah pemilihan berakhir di bulan november. Wawancara kedua dan ketiga juga mengikutsertakan sampel dari 209 responden tambahan yang sebelumnya tak terwawancarai.

Sampel diambil secara acak melalui pengambilan nomor telepon, yang dipilih dengan prosedur hubung angka acak menggunakan sampling acak bertingkat proporsional. Responden disaring berdasarkan syarat kepantasan mengikuti pilpres di kota Madison, Winsconsin.

Variabel bergantung yang besar adalah kecenderungan pilihan di bulan September dan Oktober dan pilihan ambilan yang dikemukakan pada saat wawancara pasca pemilihan. Jumlah diskusi selama masa pemilihan dilaporkan pada bulan September dan Oktober dan perubahan persepsi dalam dukungan publik untuk kandidat dipakai sebagai variabel bergantung tambahan.

Dua jenis variabel iklim opini publik menjadi variabel bebas dalam penelitian ini. Mereka digerakkan oleh pengambilan persepsi kandidat mana yang akan menang pada bulan September dan Oktober dan dengan bagaimana setiap kandidat dilihat sebagai sosok yang mendulang dukungan, tetap atau berkurang dukungannya pada saat kedua wawancara pertama dilaksanakan. Persepsi diukur dengan pertanyaan: 1.Diantara kandidat presiden, Ford, Carter dan lainnya, berapa persen pilihan yang kira kira didapat Ford (dan Carter, dan lainnya)? dan 2.Apakah dukungan terhadap Ford (Carter) sekarang naik, tetap atau berkurang?.

Untuk mengontrol persepsi selektif -kemungkinan pandangan simpatisan membiaskan perkiraan opini publik- afiliasi partai digunakan sebagai variabel kontrol. Yaitu dengan jalan, hubungan antara persepsi terhadap opini publik dan kecenderungan pilihan dinilai mengontrol aspek ketahanan relatif partai afiliasi. Untuk menyelaraskan tingkat nilai yang tinggi pada kecenderungan pilihan Carter, identifikasi yang kuat dengan partai Demokrat diberi nilai 7, Demokrat moderat diberi nilai 6, Demokrat independen diberi nilai 5 dan independen diberi nilai 4 dll.

Pada analisis perubahan kecenderungan pilihan, kecenderungan pilihan dari wawancara sebelumnya digunakan sebagai kontrol. Uji kontribusi variabel iklim opini didasarkan pada tingkat penambahan yang mereka sumbangkan pada varians yang terhitung dalam analisis regresi bertingkat.

Analisis terpisah dilakukan diantara para grup responden yang dibagi berdasarkan pemilih garis keras dan non garis keras. Tujuan ini dibuat berdasarkan standar preferensi pemilih melalui tiga gelombang interview. Mereka yang tegas memilih dari calon yang diberikan di September dan Oktober dan yang dilaporkan pemilihan untuk pemilihan calon yang sama di November yang diklasifikasikan sebagai garis keras, (n = 31), semua pemilih yang didesign sebagai non garis keras (n = 64). Untuk contoh yang mewakili keseluruhan analisis sampel, para responden yang dikodekan berdasarkan konsistensinya di preferensi Oktober dan pemilih November dan laporannya terhadap perubahan sejak September. Metode nilai terkecil dengan mengestimasi preferensi yang dihasilkan untuk proporsi grup garis keras dari panel yang dihasilkan.

HASIL

Kecenderungan pemilih untuk pemilih non garis keras kecenderungan pilihannya bergeser secara bertahap untuk Ford di September (40 persen versus 31 persen Carter), imbang di Oktober, hingga ke Carter di November (56 persen versus 29 persen Ford). Para hardcore menunjukkan preferensi Carter (52 persen untuk 48 persen). Dengan definisi yang ada, akan diketahui dengan tiga poin. (liat tabel 29.1). Margin Carter di November (20 persen) untuk pendekatan sampel total pemilih tahun 1997 di Madison.

Grup garis keras dan non garis keras ini berbeda dalam cara mereka cenderung memilih. Hasilnya tidak ditunjukkan dalam tabel, kita temukan bahwa kecendrungan pemilih garis keras berusia lebih dewasa dari para pemilih yang lain. Mayoritas suaranya melebihi 35 dari perbandingan yang hanya seperempat dari pemilih non garis keras. Yang tidak kalah mengejutkan, hardcore sepertinya menjadi suatu daya tarik politik, tetapi tidak sedikit yang kurang pengetahuannya tentang nama nama calon dari instansi yang berbeda dibandingkan pemilih yang lain. garis keras mempunyai level pendidikan yang lebih rendah.

Seperti yang ditunjukkan di tabel 29.2, sarana persepsi dari proporsi calon yang akan menerima kecendrungan dua grup yang stabil dan melebihi Ford menjadi 2 persen lebih tinggi dalam satu perbandingan. Dalam dukungannya, walaupun terlihat jelas kecendrungan untuk Ford yang dipertimbangkan dari September sampai Oktober <64 persen sampai 49 persen dari total sampel). Perbedaan antara grup yang ada dapat dilihat sebagai kecendrungan yang stabil dibandingkan perubahan persepsi yang lain di September dan Oktober (data tidak ditunjukkan di tabel). Autokorelasi garis keras untuk proporsi calon rata-rata 0.86 dibandingkan 0.56 untuk non hardcore, yang dilakukan untuk menentukan dukungan calon dimana rata-rata korelasi hanya 0.32 untuk garis keras dengan perbandingan 0.30 untuk yang lain.

Analisis regressi yang digunakan untuk mengestimasi kontribusi variabel dari iklim opini sebagi suatu kecendrungan pemilih. Dalam putaran pertama analisis, persepsi opini publik September digunakan untuk memprediksikan kecendrungan suara September bila diperkirakan dengan estimasi Oktober yang digunakan untuk memprediksikan keduanya, kecendrungan suara di bulan Oktober dan bulan November (lihat tabel 29.3). Dari sebanyak 82 peserta diskusi, dengan empat persepsi dari variabel opini publik yang dihitung sebagai jumlah yang signifikan dari variansi suara November. Walauun (5.6 persen). Setidak-tidaknya kekuatan prediksi dalam bulan November ditunjukkan untuk variansi dalam variabel tidak bebas. Tiga titik utama (Carter atau Ford) yang digunakan di bulan November dibandingkan dengan kecendrungan perhitungan suara baru baru ini yang digunakan untuk mengetahui kecendrungan skala pemilih di 5 titik untuk setiap kandidat dengan ketergantungan yakin dan ketidakyakinan.

Inspeksi untuk korelasi sederhana yang tidak terkontrol dan koefisien untuk total sampel dalam bentuk yang tetap dalam memprediksikan formulasi Noelle Neumann. Masyarakat cenderung memilih calon yang mereka lihat dalam memenangkan dan mendapatkan dukungan dalam kampanye. Persepsi kemenangan terlihat seperti menunjukkan prediktor yang kuat dalam merubah dukungan <korelasi sederhana rata rata dari 0.42 versus 0.22 untuk dukungan>, tetapi hal ini merefleksikan bagian dari variansi dalam tiga ukuran titik yang mendukung. Meskipun pengukuran interkorelasi substansial iklim opini menganggu beta, nampaknya persepsi proporsi Ford adalah penduga yang terkuat diantara keempat variabel persepsi.

Perbandingan kelompok garis keras dan non garis keras mengindikasikan perbedaan nyata dalam peranan yang dimainkan oleh variabel iklim opini (lihat tabel 29.3). Untuk kelompok non garis keras, keempat variabel persepsi menyumbang jumlah varians sisa yang signifikan pada bulan september (49.1%) dan oktober (24.6%); ini menurun hingga tingkat yang tidak signifikan pada pemilihan di bulan november (7.5%). Sangat jauh berbeda dengan jumlah variabel iklim opini kelompok garis keras yang berada pada tingkat yang tidak signifikan untuk varians kecenderungan pilihan di bulan september (4.6%) dan oktober (3.0%). Baik pada bulan september maupun oktober, perbedaan varians yang dihitung terhadap variabel persepsi diantara kelompok garis keras atau non garis keras, bernilai signifikan secara statistik.

Alasan dibalik perbedaan diantara kedua kelompok tersebut tidak bisa ditujukan pada hubungan sederhana antara variabel iklim opini dan kecenderungan pilihan saja. Diantara anggota kelompok non garis keras, reratanya dari 0.35 pada bulan september hingga 0.27 pada bulan oktober; koefisien yang berkaitan lebih tinggi pada kelompok garis keras, dengan rerata 0.46 dan 0.44. Apa yang terlihat berperan dalam perbedaan antara kedua kelompok ini adalah kombinasi dari korelasi yang kuat lebih kuat diantara afiliasi partai dan kecenderungan pilihan pada kelompok garis keras (0.87 vs 0.30 dan 0.62) dan asosiasi yang lebih kuat diantara afiliasi partai dan variabel iklim opini (garis keras — 0.44 pada bulan september dan 0.39 pada bulan oktober – vs 0.12 pada bulan september dan 0.16 pada bulan oktober pada kelompok non garis keras). Sehingga dapat kita lihat bahwa proses persepsi pada kelompok non garis keras yang lebih dinamis, lebih bebas ketimbang komitmen simpatisan partai.

Karena jumlah responden pada panel analisis sangat kecil, panel analisis pada tabel 29.3 digandakan sebanyak mungkin dengan sampel lintas bidang yang lebih besar pada tabel 29.4 sebanyak 291 responden. Hasilnya serupa dengan panel tersebut. Untuk total sampel, variabel iklim opini menyumbangkan jumlah varians yang signifikan pada kecenderungan pilihan melebihi kontribusi afiliasi partai. Sampel yang lebih besar membuat varians pemilihan pada bulan November sebesar 4.1% menjadi signifikan secara statistik. Perbedaan diantara kelompok garis keras dan non garis keras kembali mencuat pada analisis di bulan oktober dimana keempat variabel persepsi menyumbang 16.8% varians residu diantara kelompok non garis keras dibandingkan jumlah pada kelompok garis keras sebesar 5.5%. Perbedaan diantara proporsi tersebut signifikan secara statistik. Lebih lanjut, hubungan yang lebih besar diantara afiliasi partai dan persepsi turut berperan terhadap perbedaan pada kedua kelompok.

Terdapat ambiguitas yang nyata pada urutan waktu yang biasa dalam iklim opini dan variabel kecenderungan pilihan. Teori spiral kesunyian menyatakan iklim opini sebagai variabel bebas, namun mungkin saja seseorang membawa serta persepsi mereka pada pilihan yang sebelumnya. Panel kita memungkinkan analisis terhadap perubahan serta tingkat pengukuran kritis kita terhadap kelompok non garis keras. Dalam analisis regresi pada kecenderungan pilihan bulan Oktober, misalnya kecenderungan pilihan bulan September disertakan dalam bagian pertama, sehingga analisis variabel tertentu dapat dijadikan alat untuk mempelajari perubahan dalam kecenderungan pilihan.

Ketika variabel persepsi pada bulan September digunakan dalam analisis kecenderungan pilihan bulan Oktober, mereka gagal menjelaskan jumlah varian yang cukup besar <2,9 % di table 29.5> diantara kelompon non garis keras. Hasil tersebut sangat berbeda dengan prediksi kuat berdasarkan variabel iklim opini yang diukur pada bulan Oktober <18,2% pada analisis kedua pada table 29.5>. petunjuk perubahan dalam empat variabel persepsi juga memperkirakan adanya jumlah varians yang signifikan pada perubahan kecenderungan pilihan bulan Oktober <17%>. Kegagalan tingkat variabel persepsi bulan September untuk memperkirakan kegagalan bukan terutama disebabkan adanya pengumuman tingkat kecenderungan pilihan bulan September atau adanya affiliasi partai. Hubungan sederhana antara tingkat variabel persepsi bulan September dengan rerata kecenderungan pilihan bulan Oktober hanya 0.09. Nilai tersebut tidak berarti bahwa kecenderungan pilihan harus mempengaruhi persepsi, namun ia mengindikasikan bahwa kedua proses tersebut sama sama berubah selama periode bulan September ke Oktober.

Perubahan pada pilihan bulan November dari kecenderungan pilihan akhir bulan Oktober juga mengungkap beberapa hasil yang ambigu <lihat tabel 29.6>. Nilai variabel persepsi bulan Oktober menyebabkan penambahan tak signifikan sebesar 5.1% terhadap varian kelompok garis keras. Tidak ada koefisien hubungan individu sederhana yang signifikan dan reratanya hanya sebesar 0.07 % saja. Perubahan variabel iklim opini dari bulan September ke Oktober menyumbang 7.9% pada perubahan pada pulihan di bulan November, namun nilai tersebut belum signifikan. Lebih lanjut, terdapat nilai koefisien beta negatif yang signifikan terhadap perubahan persentase relatif Carter terhadap Ford.

Salah satu kunci utama Noelle Neuman adalah mereka yang disisihkan dari pengaruh spiral kesunyian akan mendapatkan dukungan dari mereka yang sepaham. Terdapat pendukung pernyataan tersebut karena pada panel data memperlihatkan kelompok garis keras lebih banyak berdiskusi tentang pemilihan dengan yang lainnya <tabel 29.7>. perbedaan dalam statistik signifikan pada gelombang bulan September dan ke arah kanan, namun tidak signifikan pada bulan Oktober. Perbedaan pada bulan September meningkat ketika diperkenalkan kontrol terhadap minat politik <tidak diperlihatkan dalam tabel>.

Peran yang lebih besar dari komunikasi interpersonal diantara kelompok garis keras ditunjukkan dalam berbagai cara dalam analisis dukungan terhadap kedua kandidat <tabel 29.8>. Komunikasi interpersonal kelompok garis keras <yang di index sebagai tingkat diskusi serta ketergantungan pada yang lain untuk informasi kampanye> menyumbang jumlah varian yang signifikan pada dukungan bagi Carter <11,2% di bulan September, 19.2% di bulan oktober> dan dukungan bagi Ford <37.9% pada september dan 25.5% pada oktober. Tidak ada proporsi varians yang signifikan yang berasal dari komunikasi interpersonal pada kelompok non garis keras <Carter, 5.5%, 0,4% dan Ford 2.9%, 0,5%>. Keempat perbandingan antara varians yang dihitung pada kedua kelompok signifikan secara statistik.

Turut dipertimbangkan perlunya pemeriksaan iklim opini akan menggiring responden non garis keras untuk menggunakan media selama kampanye. Televisi seharusnya memegang peranan penting dalam proses ini. Hal tersebut terlihat dalam data bulan september di tabel 29.8. Untuk kelompok non garis keras, indeks penggunaan televisi <termasuk perhatian terhadap frekwensi tertentu dan ketergantungannya> menyumbang proporsi yang signifikan pada varians dalam dukungan terhadap kandidat di bukan september <Carter 16.2%, Ford 20,6%>. Proporsi yang sama terhadap kelompok garis keras terlihat kecil <Carter 10.7%, Ford 1.3%>. Perbandingan bulan oktober menunjukkan penambahan tak signifikan untuk kedua kelompok untuk kedua kandidat. Penggunaan koran gagal menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok secara konsisten dalam pengaruh persepsi terhadap dukungan terhadap kandidat. Pada bulan september, penggunaan koran lebih memberikan dukungan dari kelompok garis keras terhadap dukungan bagi Carter <37.9% vs 2%> dan sebaliknya bagi Ford <5.1% vs 9.5%>. Pada data bulan oktober, penggunaan koran sedikit lebih kuat pada kelompok garis keras untuk kedua kandidat, baik Carter <6.2% vs 5.9%> dan Ford <9.7% vs 2.2%>.

Kesimpulan

Tujuan penelitian kita adalah untuk menilai Hipotesis iklim opini Noelle Neuman dalam konteks pemilihan umum Amerika. Terdapat dukungan terhadap hipotesis yang pertama bahwa persepsi dari opini publik.. penilaian terhadap apa yang orang lain percaya.. akan mempengaruhi perilaku publik. Persepsi proporsi perolehan yang akan diraih kandidat serta penambahan dan pengurangan dukungan menyumbang peningkatan yang signifikan terhadap prediksi kecenderungan pilihan pada bulan september dan oktober. Hal ini tetap berlangsung meskipun kontrol afiliasi partai diterapkan.

Sementara kita bisa mengatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara iklim opini yang didapatkan dan ekspresi pilihan, kita tidak bisa menyatakan dari bukti yang ada bahwa persepsi membawa perubahan dalam pemilihan. Analisis dalam rentang waktu dalam panel kita menghasilkan penemuan yang ambigu, hasil pengukuran iklim opini bulan oktober memperkirakan perubahan dalam kecenderungan pilihan dari bulan september ke oktober, namun tidak pada bulan november. Tanpa desain panel dengan jeda waktu yang lebih singkat, kita tidak bisa membuat pernyataan yang lebih kuat mengenai urutan biasa. Yang bisa kita katakan hanya perubahan dalam persepsi opini publik dan perubahan kecenderungan pilihan terjadi pada arah yang serupa selama periode september dan oktober.

Aspek kedua karya Noelle Neumann adalah perbedaan antara kelompok pemilih garis keras yang kebal terhadap spiral kesunyian dan mayoritas pemilih non garis keras, menimbulkan kontrast dalam sampel yang diperiksa disini. Noelle Neumann memperkirakan kelompok garis keras akan menggunakan komunikasi interpersonal secara intensif untuk menunjukkan opini mereka. Pada bulan september, responden garis keras kita menunjukkan tingkat diskusi interpersonal yang lebih tinggi daripada kelompok non garis keras. Yang lebih mengagumkan adalah perbedaan antara kelompokdalam hal pengaruh komunikasi interpersonal dalam membuat penilaian tentang perubahan dukungan bagi Carter maupun Ford. Pada bulan september dan oktober, kelompok garis keras memiliki proporsi varians yang lebih besar pada persepsi dukungan yang dihasilkan komunikasi interpersonal. Dugaan bahwa kelompok non garis keras akan mendapatkan pengaruh yang lebih besar dari televisi mendapatkan hasil yang berbeda dalam data.

Hipotesis lebih lanjut dari Noelle Neumann akan diperiksa dalam analisis mendatang. Yaitu, didalam kelompok garis keras, mereka yang melihat kandidat dukungan mereka akan kalah akan menunjukkan perilaku menghindar yang ditunjukkan dengan rendahnya diskusi interpersonal selama kampanye. Analisis ini akan dilaporkan dalam revisi bab ini.

Hal yang juga relevan untuk ditanyakan adalah apakah bukti yang kita punya cocok dengan efek kereta api tradisional. Dalam hal kecenderungan pilihan cenderung berbeda dengan persepsi siapa yang menang dan kalah, terdapat data yang mendukung. Namun, jika efek kereta api berfungsi sebagai mana biasanya, efeknya akan semakin besar mendekati hari H. Data kita agaknya berbeda. Hasil pada bulan september lebih besar daripada bulan oktober maupun november. Dapat pula dikatakan bahwa dalam pemilihan presiden tahun 1976, tidak ada calon presiden favorit, sehingga menyebabkan efek kereta api tidak berpengaruh.

Perlakuan terhadap persepsi opini publik dapat dianggap langkah kecil membangun konsep komunikasi yang tepat terhadap analisis tingkat sistem sosial. Opini yang dipegang oleh individu dapat mempengaruhi perilaku, juga persepi dari apa yang dipercaya oleh orang lain. Faktanya, individu mungkin merasa lebih bebas mengutarakan persepsi opini publik ketimbang opini diri pribadinya, ketika yang terakhir secara sosial tidak bisa diterima.

Untuk hal ini dan alasan yang lain, mungkin akan berguna jika kita merubah definisi opini publik, dari kumpulan ekspresi individu kepada keseluruhan persepsi mengenai apa yang dipercaya orang lain dalam masyarakat.

ANALISA TUGAS

1. MERUMUSKAN MASALAH

Rumusan masalah yang digunakan adalah mengungkapkan konsep opini publik. karena opini publik selalu mengiringi setiap permasalahan yang muncul ke permukaan, khususnya tentang pandangan warga dewasa US bahwa presiden telah bekerja dengan baik terutama masalah apakah calon presiden akan terpilih kembali.
Kasus yang terkadi di US adalah bagaimana sebuah konsep opini publik mempengaruhi sebuah pilihan dalam masyarakat US, yang terbagi 2 golongan. Golongan garis keras dan non garis keras.

2. MENENTUKAN KONSEP DAN HIPOTESIS

A. KONSEP

Konsep yang digunakan adalah Neolle-Neumann mendefinisikan opini publik sebagai opini dominan yang menekan sikap dan perilaku individu lainnya untuk menurut, dengan ancaman isolasi. Dia mengasumsikan bahwa ketakutan terhadap isolasi diri (takut dirinya diasingkan atau ragu akan penilaiannya sendiri) menjadi bagian integral dari semua proses opini publik.

Dalam teori Noelle Neuman dibedakan antara kelompok garis keras dan non garis keras. Kelompok garis keras adalah mereka yang tidak siap berkompromi, merubah opini mereka atau bersikap diam ketika berhadapan dengan opini publik (Noelle Neuman, 1973). Noelle Neuman percaya bahwa kelompok garis keras terbiasa dengan pengucilan dan mungkin mendapatkan dukungan dengan mengkonfirmasi orang yang sependapat dengannya. Kita bisa menduga bahwa kelompok garis keras lebih menggunakan komunikasi interpersonal daripada yang lainnya.

Teori spiral kesunyian juga mengungkapkan hasil komunikasi lainnya. Kita bisa menduga bahwa kelompok non garis keras, yang merasa kandidat pilihan mereka akan kalah, maka penggunaan media massa maupun komunikasi secara interpersonal mereka akan sangat rendah selama masa pemilu. Karena media massa berisi jajak pendapat dan informasi lainnya yang berkaitan dengan iklim opini saat itu, maka kelompok non garis keras secara umum akan menggunakan media massa lebih banyak ketimbang kelompok garis keras.

B. HIPOTESIS

Hipotesis yang diuji adalah hipotesis iklim opini Noelle Neumann, berkaitan dengan individu penganut garis keras dan non garis keras dalam pemilu di US. Apakah hipotesis ini bisa digunakan dalam dua golongan dalam pemilu US/ Wawancara dilaksanakan secara panel terhadap 96 responden pada tiga titik waktu, dua kali sebelum pilpres, dan satu kali sesudah pilpres 1976 berlangsung.

3. PENGAMBILAN SAMPEL

Sampel diambil secara acak melalui pengambilan nomor telepon, yang dipilih dengan prosedur hubung angka acak menggunakan sampling acak bertingkat proporsional. Responden disaring berdasarkan syarat kepantasan mengikuti pilpres di kota Madison, Winsconsin.

Variabel bergantung yang besar adalah kecenderungan pilihan di bulan September dan Oktober dan pilihan ambilan yang dikemukakan pada saat wawancara pasca pemilihan. Jumlah diskusi selama masa pemilihan dilaporkan pada bulan September dan Oktober dan perubahan persepsi dalam dukungan publik untuk kandidat dipakai sebagai variabel bergantung tambahan.

4. PEMBUATAN KUESIONER

Dalam penelitian ini dilakukan dengan pengambilan persepsi kandidat mana yang akan menang pada bulan September dan Oktober dan dengan bagaimana setiap kandidat dilihat sebagai sosok yang mendulang dukungan, tetap atau berkurang dukungannya pada saat kedua wawancara pertama dilaksanakan. Persepsi diukur dengan pertanyaan: 1.Diantara kandidat presiden, Ford, Carter dan lainnya, berapa persen pilihan yang kira kira didapat Ford (dan Carter, dan lainnya)? dan 2.Apakah dukungan terhadap Ford (Carter) sekarang naik, tetap atau berkurang?.

5. MEMILIH DAN MELATIH PENCACAH

Analisis terpisah dilakukan diantara para grup responden yang dibagi berdasarkan pemilih garis keras dan non garis keras. Tujuan ini dibuat berdasarkan standar preferensi pemilih melalui tiga gelombang interview. Mereka yang tegas memilih dari calon yang diberikan di September dan Oktober dan yang dilaporkan pemilihan untuk pemilihan calon yang sama di November yang diklasifikasikan sebagai garis keras, (n = 31), semua pemilih yang didesign sebagai non garis keras (n = 64). Untuk contoh yang mewakili keseluruhan analisis sampel, para responden yang dikodekan berdasarkan konsistensinya di preferensi Oktober dan pemilih November dan laporannya terhadap perubahan sejak September.

6. MENCACAH

Kecenderungan pemilih untuk pemilih non garis keras kecenderungan pilihannya bergeser secara bertahap untuk Ford di September (40 persen versus 31 persen Carter), imbang di Oktober, hingga ke Carter di November (56 persen versus 29 persen Ford). Para hardcore menunjukkan preferensi Carter (52 persen untuk 48 persen). Dengan definisi yang ada, akan diketahui dengan tiga poin. (liat tabel 29.1). Margin Carter di November (20 persen) untuk pendekatan sampel total pemilih tahun 1997 di Madison.

Grup garis keras dan non garis keras ini berbeda dalam cara mereka cenderung memilih. Hasilnya tidak ditunjukkan dalam tabel, kita temukan bahwa kecendrungan pemilih garis keras berusia lebih dewasa dari para pemilih yang lain. Mayoritas suaranya melebihi 35 dari perbandingan yang hanya seperempat dari pemilih non garis keras. Yang tidak kalah mengejutkan, hardcore sepertinya menjadi suatu daya tarik politik, tetapi tidak sedikit yang kurang pengetahuannya tentang nama nama calon dari instansi yang berbeda dibandingkan pemilih yang lain. garis keras mempunyai level pendidikan yang lebih rendah.

Perbandingan kelompok garis keras dan non garis keras mengindikasikan perbedaan nyata dalam peranan yang dimainkan oleh variabel iklim opini (lihat tabel 29.3). Untuk kelompok non garis keras, keempat variabel persepsi menyumbang jumlah varians sisa yang signifikan pada bulan september (49.1%) dan oktober (24.6%); ini menurun hingga tingkat yang tidak signifikan pada pemilihan di bulan november (7.5%). Sangat jauh berbeda dengan jumlah variabel iklim opini kelompok garis keras yang berada pada tingkat yang tidak signifikan untuk varians kecenderungan pilihan di bulan september (4.6%) dan oktober (3.0%). Baik pada bulan september maupun oktober, perbedaan varians yang dihitung terhadap variabel persepsi diantara kelompok garis keras atau non garis keras, bernilai signifikan secara statistik.

Alasan dibalik perbedaan diantara kedua kelompok tersebut tidak bisa ditujukan pada hubungan sederhana antara variabel iklim opini dan kecenderungan pilihan saja. Diantara anggota kelompok non garis keras, reratanya dari 0.35 pada bulan september hingga 0.27 pada bulan oktober; koefisien yang berkaitan lebih tinggi pada kelompok garis keras, dengan rerata 0.46 dan 0.44. Apa yang terlihat berperan dalam perbedaan antara kedua kelompok ini adalah kombinasi dari korelasi yang kuat lebih kuat diantara afiliasi partai dan kecenderungan pilihan pada kelompok garis keras (0.87 vs 0.30 dan 0.62) dan asosiasi yang lebih kuat diantara afiliasi partai dan variabel iklim opini (garis keras — 0.44 pada bulan september dan 0.39 pada bulan oktober – vs 0.12 pada bulan september dan 0.16 pada bulan oktober pada kelompok non garis keras). Sehingga dapat kita lihat bahwa proses persepsi pada kelompok non garis keras yang lebih dinamis, lebih bebas ketimbang komitmen simpatisan partai.

Karena jumlah responden pada panel analisis sangat kecil, panel analisis pada tabel 29.3 digandakan sebanyak mungkin dengan sampel lintas bidang yang lebih besar pada tabel 29.4 sebanyak 291 responden. Hasilnya serupa dengan panel tersebut. Untuk total sampel, variabel iklim opini menyumbangkan jumlah varians yang signifikan pada kecenderungan pilihan melebihi kontribusi afiliasi partai. Sampel yang lebih besar membuat varians pemilihan pada bulan November sebesar 4.1% menjadi signifikan secara statistik. Perbedaan diantara kelompok garis keras dan non garis keras kembali mencuat pada analisis di bulan oktober dimana keempat variabel persepsi menyumbang 16.8% varians residu diantara kelompok non garis keras dibandingkan jumlah pada kelompok garis keras sebesar 5.5%. Perbedaan diantara proporsi tersebut signifikan secara statistik. Lebih lanjut, hubungan yang lebih besar diantara afiliasi partai dan persepsi turut berperan terhadap perbedaan pada kedua kelompok.

Terdapat ambiguitas yang nyata pada urutan waktu yang biasa dalam iklim opini dan variabel kecenderungan pilihan. Teori spiral kesunyian menyatakan iklim opini sebagai variabel bebas, namun mungkin saja seseorang membawa serta persepsi mereka pada pilihan yang sebelumnya. Panel kita memungkinkan analisis terhadap perubahan serta tingkat pengukuran kritis kita terhadap kelompok non garis keras. Dalam analisis regresi pada kecenderungan pilihan bulan Oktober, misalnya kecenderungan pilihan bulan September disertakan dalam bagian pertama, sehingga analisis variabel tertentu dapat dijadikan alat untuk mempelajari perubahan dalam kecenderungan pilihan.

Ketika variabel persepsi pada bulan September digunakan dalam analisis kecenderungan pilihan bulan Oktober, mereka gagal menjelaskan jumlah varian yang cukup besar <2,9 % di table 29.5> diantara kelompon non garis keras. Hasil tersebut sangat berbeda dengan prediksi kuat berdasarkan variabel iklim opini yang diukur pada bulan Oktober <18,2% pada analisis kedua pada table 29.5>. petunjuk perubahan dalam empat variabel persepsi juga memperkirakan adanya jumlah varians yang signifikan pada perubahan kecenderungan pilihan bulan Oktober <17%>. Kegagalan tingkat variabel persepsi bulan September untuk memperkirakan kegagalan bukan terutama disebabkan adanya pengumuman tingkat kecenderungan pilihan bulan September atau adanya affiliasi partai. Hubungan sederhana antara tingkat variabel persepsi bulan September dengan rerata kecenderungan pilihan bulan Oktober hanya 0.09. Nilai tersebut tidak berarti bahwa kecenderungan pilihan harus mempengaruhi persepsi, namun ia mengindikasikan bahwa kedua proses tersebut sama sama berubah selama periode bulan September ke Oktober.

Perubahan pada pilihan bulan November dari kecenderungan pilihan akhir bulan Oktober juga mengungkap beberapa hasil yang ambigu <lihat tabel 29.6>. Nilai variabel persepsi bulan Oktober menyebabkan penambahan tak signifikan sebesar 5.1% terhadap varian kelompok garis keras. Tidak ada koefisien hubungan individu sederhana yang signifikan dan reratanya hanya sebesar 0.07 % saja. Perubahan variabel iklim opini dari bulan September ke Oktober menyumbang 7.9% pada perubahan pada pulihan di bulan November, namun nilai tersebut belum signifikan. Lebih lanjut, terdapat nilai koefisien beta negatif yang signifikan terhadap perubahan persentase relatif Carter terhadap Ford.

Dalam teroi ini, jelas salah satu kunci utama Noelle Neuman adalah mereka yang disisihkan dari pengaruh spiral kesunyian akan mendapatkan dukungan dari mereka yang sepaham. Terdapat pendukung pernyataan tersebut karena pada panel data memperlihatkan kelompok garis keras lebih banyak berdiskusi tentang pemilihan dengan yang lainnya <tabel 29.7>. perbedaan dalam statistik signifikan pada gelombang bulan September dan ke arah kanan, namun tidak signifikan pada bulan Oktober. Perbedaan pada bulan September meningkat ketika diperkenalkan kontrol terhadap minat politik <tidak diperlihatkan dalam tabel>.

Peran yang lebih besar dari komunikasi interpersonal diantara kelompok garis keras ditunjukkan dalam berbagai cara dalam analisis dukungan terhadap kedua kandidat <tabel 29.8>. Komunikasi interpersonal kelompok garis keras <yang di index sebagai tingkat diskusi serta ketergantungan pada yang lain untuk informasi kampanye> menyumbang jumlah varian yang signifikan pada dukungan bagi Carter <11,2% di bulan September, 19.2% di bulan oktober> dan dukungan bagi Ford <37.9% pada september dan 25.5% pada oktober. Tidak ada proporsi varians yang signifikan yang berasal dari komunikasi interpersonal pada kelompok non garis keras <Carter, 5.5%, 0,4% dan Ford 2.9%, 0,5%>. Keempat perbandingan antara varians yang dihitung pada kedua kelompok signifikan secara statistik.

Turut dipertimbangkan perlunya pemeriksaan iklim opini akan menggiring responden non garis keras untuk menggunakan media selama kampanye. Televisi seharusnya memegang peranan penting dalam proses ini. Hal tersebut terlihat dalam data bulan september di tabel 29.8. Untuk kelompok non garis keras, indeks penggunaan televisi <termasuk perhatian terhadap frekwensi tertentu dan ketergantungannya> menyumbang proporsi yang signifikan pada varians dalam dukungan terhadap kandidat di bukan september <Carter 16.2%, Ford 20,6%>. Proporsi yang sama terhadap kelompok garis keras terlihat kecil <Carter 10.7%, Ford 1.3%>. Perbandingan bulan oktober menunjukkan penambahan tak signifikan untuk kedua kelompok untuk kedua kandidat. Penggunaan koran gagal menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok secara konsisten dalam pengaruh persepsi terhadap dukungan terhadap kandidat. Pada bulan september, penggunaan koran lebih memberikan dukungan dari kelompok garis keras terhadap dukungan bagi Carter <37.9% vs 2%> dan sebaliknya bagi Ford <5.1% vs 9.5%>. Pada data bulan oktober, penggunaan koran sedikit lebih kuat pada kelompok garis keras untuk kedua kandidat, baik Carter <6.2% vs 5.9%> dan Ford <9.7% vs 2.2%>.

8. ANALISIS

Salah satu kunci utama Noelle Neuman adalah mereka yang disisihkan dari pengaruh spiral kesunyian akan mendapatkan dukungan dari mereka yang sepaham. Terdapat pendukung pernyataan tersebut karena pada panel data memperlihatkan kelompok garis keras lebih banyak berdiskusi tentang pemilihan dengan yang lainnya

Turut dipertimbangkan perlunya pemeriksaan iklim opini akan menggiring responden non garis keras untuk menggunakan media selama kampanye. Televisi seharusnya memegang peranan penting dalam proses ini. Jelas sekali suatu kelompok yang sudah memiliki opini tersendiri terhadap calonnya, akan tetap konsisten walaupun provokasi media berusaha mengubahnya, karena pencitraan dalam sebuah opini publik sudah melekat di golongan garis keras, sedangkan kelompok non garis keras bisa berubah pilihan mengenai calonnya, karena opini di pikirannya masih bisa berubah terkandung kondisi masyarakat. Dan selama ini masyarakat umumnya masih berada di golongan non garis keras/

9. PELAPORAN DAN PUBLIKASI HASIL

Tujuan awal penelitian adalah menilai Hipotesis iklim opini Noelle Neuman dalam konteks pemilihan umum Amerika. Terdapat dukungan terhadap hipotesis yang pertama bahwa persepsi dari opini publik.. penilaian terhadap apa yang orang lain percaya.. akan mempengaruhi perilaku publik. Persepsi proporsi perolehan yang akan diraih kandidat serta penambahan dan pengurangan dukungan menyumbang peningkatan yang signifikan terhadap prediksi kecenderungan pilihan pada bulan september dan oktober. Hal ini tetap berlangsung meskipun kontrol afiliasi partai diterapkan.

Sementara kita bisa mengatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara iklim opini yang didapatkan dan ekspresi pilihan, kita tidak bisa menyatakan dari bukti yang ada bahwa persepsi membawa perubahan dalam pemilihan.

Aspek kedua karya Noelle Neumann adalah perbedaan antara kelompok pemilih garis keras yang kebal terhadap spiral kesunyian dan mayoritas pemilih non garis keras, menimbulkan kontrast dalam sampel yang diperiksa disini. Noelle Neumann memperkirakan kelompok garis keras akan menggunakan komunikasi interpersonal secara intensif untuk menunjukkan opini mereka. Pada bulan september, responden garis keras kita menunjukkan tingkat diskusi interpersonal yang lebih tinggi daripada kelompok non garis keras. Yang lebih mengagumkan adalah perbedaan antara kelompok dalam hal pengaruh komunikasi interpersonal dalam membuat penilaian tentang perubahan dukungan bagi Carter maupun Ford. Pada bulan september dan oktober, kelompok garis keras memiliki proporsi varians yang lebih besar pada persepsi dukungan yang dihasilkan komunikasi interpersonal. Dugaan bahwa kelompok non garis keras akan mendapatkan pengaruh yang lebih besar dari televisi mendapatkan hasil yang berbeda dalam data.

Perlakuan terhadap persepsi opini publik dapat dianggap langkah kecil membangun konsep komunikasi yang tepat terhadap analisis tingkat sistem sosial. Opini yang dipegang oleh individu dapat mempengaruhi perilaku, juga persepi dari apa yang dipercaya oleh orang lain. Faktanya, individu mungkin merasa lebih bebas mengutarakan persepsi opini publik ketimbang opini diri pribadinya, ketika yang terakhir secara sosial tidak bisa diterima.

Untuk hal ini dan alasan yang lain, mungkin akan berguna jika kita merubah definisi opini publik, dari kumpulan ekspresi individu kepada keseluruhan persepsi mengenai apa yang dipercaya orang lain dalam masyarakat. Jadi apapun usaha media untuk merubah, ternyata tetap opini publik yang merubah suatu kondisi pilihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: