Komunikasi Politik: Bagaimana Mengukur Kinerja Pemerintah pada DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

A. LETAK GEORAFIS PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Propinsi Kalimantan Selatan dengan ibukotanya Banjarmasin terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan batas-batas: sebelah barat dengan propinsi Kalimantan Tengah, sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa dan di sebelah utara dengan propinsi Kalimantan Timur.

Propinsi Kalimantan Selatan secara geografis terletak di antara 114 19″ 33″ BT – 116 33′ 28 BT dan 1 21′ 49″ LS 1 10″ 14″ LS, dengan luas wilayah 37.377,53 km² atau hanya 6,98 persen dari luas pulau Kalimantan. Dalam pengembangan potensi daerah salah satunya diperlukan program-program yang menunjang pembangunan, dalam hal ini program-program oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan.

B. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN

Terwujudnya industri yang memiliki daya saing kuat, berorientasi ekspor didukung oleh perdagangan yang kondusif, menuju masyarakat Kalimantan Selatan yang TERSENYUM (tertib, sejuk, nyaman, unggul dan maju).

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan perindustrian dan perdagangan, sasaran yang akan dicapai anatara lain:

SASARAN KUALITATIF:

a. Meningkatnya daya saing produk industri.
b. Meningkatnya pertumbuhan industri dan perdagangan yang mampu menyerap lapangan kerja.
c. Terwujudnya iklim investasi yang sehat untuk mengurangi praktik ekonomi biaya tinggi yang didukung dengan penegakan hukum untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban berusaha.
d. Meningkatkan ekspor non migas secara bertahap dengan komposisi produk yang lebih beragam dan strategi pengembangan yang lebih maju.
e. Meningkatkan efesiensi dan efektivitas distribusi, tertib niaga dan kepastian berusaha untuk mewujudkan perdagangan yang kondusif dan dinamis.
f. Berkembangnya industri berbasis sumber daya lokal.

SASARAN KUANTITATIF:

Sasaran pembangunan industri dan perdagangan secara kuantitatif adalah:
1. Meningkatnya pertumbuhan industri dan perdagangan yang mampu menyerap tenaga kerja 5%
2. Meningkatyna ekspor non migas rata-rata 10% pertahun
3. Meningkatnya pertumbuhan sektor perdagangan menjadi 6,0% pada tahun 2010.

Dengan sasaran yang ingin dicapai, maka langkah-langkah yang ditempuh dalam mendukung pembangunan ekonomi di Provinsi Kalimnatan Selatan, digambarkan dalam program-program pembangunan industri dan perdagangan sebagai berikut:
a. Program Pembangunan Industri Kecil dan Menengah
b. Program Penganaman Perdagangan dan Perlindungan Konsumen
c. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri
d. Program Pengembangan Standarisasi Nasional
e. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor
f. Program Peningkatan Efisinsi Perdagangan Dalam Negeri
g. Program Pengembangan Kawasan Cepat Tumbuh

C. REALISASI PELAKSANAAN PROGRAM

1. Perkembangan Industri

Perkembangan industri di Provinsi Kalimatan Selatan hingga akhir tahun 2006 mencapai 39.455 unit usaha atau naik sebanyak 6,00% dari 37.222 unit usaha pada tahun 2005 dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 93.771 orang atau naik sebanyak 8.00% dari 86.825 orang pada tahun 2005, nilai investasi mencapai sebesar Rp.143,383 milyar atau naik sebanyak 4% nilai produksi mencapai Rp.590,175 milyar atau naik sebanyak 5,30% dengan nilai bahan baku mencapai Rp.331,093 milyar atau naik sebanyak 4,60% dan nilai tambah mencapai Rp.259,082 milyar atau naik sebesar 6,21% dari nilai tambah sebesar Rp.243,938 milyar pada tahun 2005.

LAJU PERTUMBUHAN INDUSTRI TAHUN 2005-2006

NO URAIAN S.D TAHUN PERTAMBAHAN %

2005 2006
1. Unit Usaha 37.222 39.455 2.233 6,00
2 Tenaga Kerja 86.825 93.771 6.946 8,00
3. Nilai Investasi 137.868.655 143.383.401 5.514.746 4,00
4. Nilai Produksi 560.470.312 590.175.239 29.704.927 5,30

5. Nilai Bahan Baku 316.532.316 331.092.803 14.560.487 4,60
6. Nilai Tambah 241.937.996 259.082.436 15.144.440 6,21

Sedangkan perkembangan industri di Provinsi Kalimantan Selatan hingga akhir Desember tahun 2007 mencapai 41.521 unit usaha atau naik sebanyak 5,24% dari 39,455 unit usaha pada tahun 2006 dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 99.452 orang atau naik sebanyak 6,05% dari 93.771 orang pada tahun 2006, nilai investasi mencapai sebesar Rp. 146,997.986 milyar atau naik 2.52% dari tahun 2006 yaitu Rp. 143.383.401, nilai produksi mencapaiRp. 601.978.850, atau naik 2,00% dari tahun 2006 yaitu 590.175.239 milyar dengan nilai bahan baku mencapai Rp.331.092.803, dan nilai tambah mencapai Rp.272.238.758 milyar tau naik sebesar 5,85 dari nilai tambah sebesar Rp. 259.082.436 milyar pada tahun 2006, sebagaimana tabel dibawah ini.

LAJU PERTUMBUHAN INDUSTRI TAHUN 2005-2006

NO URAIAN S.D TAHUN PERTAMBAHAN %

2006 2007
1. Unit Usaha 39.455 41.521 2.066 5,24
2 Tenaga Kerja 93.771 99.452 5.681 6,05
3. Nilai Investasi 143.383.401 146.997.986 3.614.585 2,52
4. Nilai Produksi 590.175.239 601.978.850 11.803.611 2,00
5. Nilai Bahan Baku 331.029.803 336.390.590 5.297.787 1,60

6. Nilai Tambah 259.182.436 274.238.758 15.156.322 5,85

2. Perkembangan perdagangan

Perdagangan Dalam Negeri

Perkembangan sektor perdagangan bila dillihat dari jumlah pemegang Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) di Kalimantan Selatan secara komulatip sampai dengan tahun 2007 sebanyak 27.224 buah Pedagang Kecil (PK) atau naik atau naik sebesar 11,57% dari 24.400 buah pada tahun 2006, Pedagang Menengah (PM) sebanyak7.927 buah atau naik sebesar 9,45% dari 7.236 buah pada tahun 2006, kemudian Pedagang Besar juga mengalami pertambahan ketiga jenis usaha tersebut Pedagang Kecil mengalami kenaikan paling banyak yaitu sebesar 2.8824 buah sedangkan bila dilihat dari prosentasi pertambahan Pedagang Kecil (PK) tetap mengalami kenaikan paling banyak yaitu sebesar 11,57%. Sedangkan bila dilihat dari jumlah keseluruhan jenis Usaha tersebut sampai dengan tahun 2007 sebanyak 37.101 buah atau naik sebesar 11,07% dari 33.402 dari 33.402 buah pada tahun2006.

PERKEMBANGAN JENIS USAHA BERDASARKAN PEMEGANG SIUP
TAHUN 2005-2006

NO JENIS GOLONGAN S.D TAHUN PERTAMBAHAN %

2006 2007
1. Pedagang Kecil (PK) 21.493 24.400 2.907 13,53
2 Pedagang Menengah (PM) 6.303 7.236 933 14,80
3. Pedagang Besar (PB) 1.464 1.766 302 20,63
JUMLAH 29.260 33.402 4.142 14,16

PERKEMBANGAN JENIS USAHA BERDASARKAN PEMEGANG SIUP
TAHUN 2006-2007

NO JENIS GOLONGAN S.D TAHUN PERTAMBAHAN %

2006 2007
1. Pedagang Kecil (PK) 25.594 28.465 2.871 11,22
2 Pedagang Menengah (PM) 7.302 8.111 7.302 11,08
3. Pedagang Besar (PB) 1.725 2.015 290 16,81
JUMLAH 34,621 38.591 10.463 11,47

Perkembangan Jumlah Unit Usaha (Jenis Perusahaan) yang bergerak di bidang prdangangan dan jasa berdasarkan pemegang atau pemillik Tanda Daftar Perusahaan (TDP) di Kalimantan Selatan secara kumulatip sampai dengan Desember tahun 2007yaitu PT berjumlah 4.204 buah atau naik sebesar 11,78% dari 3.761 buah pada tahun 2006, CV. Berjumlah 11.608 buah atau naik sebesar 13,90%, Koperasi naik sebesar 5,40%, Perorangan naik sebesar 7,22%, dan Badan Usaha Lainnya naik sebesar 1,72%, sedangkan Filma tidak mengalami perubahan. Jadi secara keseluruhan perkembangan perusahaan / jenis usaha di Kalimantan selatan sampai dengan tahun 2007 berjumlah 43.988 buah atau naik sebesar 9,24% dari 4.269 pada tahun 2006 seiring dengan naiknya inflasi sebesar 7,78%.

PERKEMBANGAN JENIS PERUSAHAAN BERDASARKAN PEMEGANG TOP
TAHUN 2005 – 2006

NO JENIS PERUSAHAAN S.D TAHUN PERTAMBAHAN %

2005 2006
1. Perseroan Terbatas (PT) 3.761 4.204 433 11,78

2 Persekutuan Komanditer (CV) 10.191 11.608 1.417 13,90
3. Firma (Fa) 36 36 – -
4. Koperasi (Kop) 1.221 1.287 66 5,40

5. Perorangan (PO) 24,769 26,557 1.788 7,22
6. Badan Usaha Lainnya (BUL) 291 296 5 1,72
JUMLAH 40.269 43.988 3.719 9,24

3. Perkembangan Inflasi

Angka inflasi yang merupakan salah satu terkendalinya tolak ukur harga terutama bahan kebutuhan pokok dan stabilitas perekonomian selama periode 2000-2004,juga menunjukkan angka laju inflasi yang relatif rendah yakni dibawah 2 (dua) digit.
Laju inflasi tertinggi terjadi di Banjarmasin pada bulan Agustus tahun 2007 secara komulatif yaitu 7,78%, sedangkan tingkat nasional pada bulan Desember tahun 2007 sebesar 6,59%, berarti masih dibawah tingkat nasional. Deflasi di Banjarmasin bulan Desember 2007 sebesar 1,15%, sedangkan Nasional mengalami Inflasi 1,10%. Kota Banjarmasin tahun 2007 ada 2 bulan yang mengalami deflasi yaitu pada bulan April 2007 sebesar (0,28%), dan Juni 2007 sebesar -0,56%, sedangkan diluar dari bulan tersebut mengalami inflasi dimana inflasi tetinggi terjadi di bulan Maret 2007 sebesar 13,20% dan Desember 2007 sebesar 7,78%

6 (enam) kota dikawasan Kalimantan semuanya mengalami inflasi di bulan Desember 2007 yakni:
 Palangkaraya mengalami Infalasi 1,88%.
 Pontianak mengalami inflasi 0,55%
 Balikpapan mengalami inflasi 1.31%
 Samarinda mengalami inflasi 0,75%
 Sampit mengalami inflasi 3,15%

Dengan demikian laju inflasi selama periode 2007 sebagaimana dikemukakan diatas dapat dikatakan bahwa:
Selama tahun tersebut kondisi harga, terutama harga kebutuhan pokok masyarakat didaerah ini tidak terjadi gejolak yang dapat meresahkan masyarakat dan ketersediaan stock dipasaran relatif terkendali walaupun terjadi tingkat inflasi secara komulatif 11,03% disebabkan adanya kenaikan harga beras dan kelangkaan minyak tanah.
Dengan tingkat laju inflasi yang terjadi di tahun 2007 tersebut relatif masih menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya didaerah ini terutama terhadap agro industri.

4. Perkembangan Ekspor Non Migas

Ekspor yang menggunakan sumber penerimaan devisa negara dalam pembiayaan pembangunan selama tahun 2005, khususnya daerah Kalimantan Selatan, mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan, karena pada tahun tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 26,24% yaitu dari US $.1,64 juta dalam tahun 2004 menjadi US $.2,01 juta dalam tahun2005.

Realisasi ekspor non migas Kalimantan Selatan untuk tahun 2006 sebesar US $.2.608.537.587,89, jika dibandingkan pada tahun 2005 US $.2.078.302.520,04 berarti mengalami kenaikan sebesar 25,51%.
Perkembangan lebih lanjut peningkatan nilai ekspor tahun 2006 dibandingkan dengan tahun 2005 secara singkat dapat disampaikan sebagai berikut:
Kelompok Produk Karet Alami;
Kelompok ini mengalami kenaikan yang sangat tajam 576,43 dari US $.13.916.993,35 menjadi US $.94.138.058,29 kenaikan ini disebabkan harga karet yang mulai naik.

Kelompok Produk kayu;
Perkembangan tahun 13,77% dari US $.329.616.878,16 menjadi US$284.22.178,24 kelompok produk kayu selama ini juga merupakan komoditi yang dominan memberikan kontribusi penerimaan devisa, nmaun akhir-akhir ini mengalami penurunan realisasi nilai ekspor, hal ini disebabkan semakin sulitnya memperoleh bahan baku kayu, dimana industri kayu di Kalimantan Selatan setiap tahun membutuhkan bahan baku kurang lebih dari ± 2 – 3 juta m3/tahun sedangkan jatah tebang yang diberikan oleh Pemerintah hanya ± 53.000 m3/tahun

Kelompok Produk Rotan;
Kelompok produk ini mengalami penurunan 9,52% dari US $.9.871.482,94 menjadi US $.8.931.395,31. penurunan ini disebabkan Pemerintah mengalami penurunan.
Kelompok Produk Perikanan;
Kelompok produk ini naik 80,91% dari US $.6.481.669,13 menjadi US $.11.725.911,02. kenakan ini disebabkan produk udang beku sebagai primadona pada kelompok ini ekspornya mengalami kenaikan.

Kelompok Produk Tambang;
Pada kelompok produk ini mengalami kenaikan sebesar 4,76% dari US $.1.624.041.695,12 menjadi US $.1.701.335.943,81. kenaikan ini disebabkan banyaknya permintaan, komoditi yang paling dominant sebagai sumber penerimaan devisa ekspor Kalmintan Selatan selama ini adalah batu bara, biji besi dan lagi-lag yang berarti bahwa ekspor Kalimantan Selatan lebih banyak mengandalkan eksploitasi kekayaan alam yang sangat membutuhkan kelestarian dan perlu mendapat perhatian khusus.

Kelompok Produk Lain;
Kelompok ini mengalami kenaikan sebesar 438,48 dari US $.94.373.801,34 menjadi US $.508.184.101,85. adanya kenaikan ini disebabkan oleh naiknya produk CPO dan re ekspor alat-alat berat untuk keperluan angkutan batu bara.

Dalam tahun 2007, nilai ekspor non migas ditargetkan naik 15% dibandingkan dengan perolehan tahun 2006. hingga Januari – Desember 2007 nilai ekspor non mogas yang diperoleh sebesar US $.2.959.209.656,74. jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2006 dengan nilai US $.2.608.518.924,99 berarti telah tercapai 13,44%

Perkembangan lebih lanjut peningkatan nilai ekspor tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2006 secara singkat padat disampaikan sebagai berikut:

Kelompok Produk Karet Alam
Kelompok ini mengalami kenaikan yang sangat tajam 53,78% dari US $.94.138.058,29 menjai US $.144.761.960,53 kenaikan ini di sebabkan harga karet dunia yang terus membaik.

Kelompok Produk CPO
Kelompok ini mengalami kenaikan 99,32 yaitu dari US $.23.119.711,13 menjadi US $.46.081.367,73.

Kelompok Produk Kayu
Perkembangan naik 59,45% dari US $.284.031.466,31 menjadi US $.452.900.392,87. hal ini disebabkan adanya inovasi produk kayu berupa polyester plywood yang harganya cakup bagus dipasar internasional. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kelompok produk kayu selama ini juga merupakan komoditi yang dominant memberikan kontribusi devisa, dan saat ini masih terkendala pada sulitnya memperoleh bahan kayu, dimana industri kayu di Kalimantan Selatan setiap tahun membutuhkan bahan baku kurang lebih ± 2 – 3 juta m3/tahun sedangkan jatah terbang yang diberikan oleh pemerintah hanya ± 53.000m3/tahun.

Kelompok Produk Rotan
Kelompok produk ini 38,22% dari US $.8.97.748,78 menjadi US $.8.011.425,70. hal ini disebabkan permintaan luar negeri mengalami penurunan khususnya pasar Jepang yang merupakan tujuan utama pasar rotan Kalimantan Selatan

Kelompok Produk Perikanan
Kelompok produk ini naik 38,22% dari US $.11.853.931,58 menjadi US $.16.384.420,65. kenaikan ini disebabkan produk udang beku sebagai primadona pada kelompok ini ekspornya mengalami kenaikan.

Kelompok Produk Tambang
Pada kelompok produk ini mengalami kenaikan sebesar 26,90% dari US $. 1.701.335.943,18 menjadi US $.2.158.949.708,49. kenaikan ini disebabkan banyaknya permintaan, komoditi yang paling dominant sebagai sumber penerimaan devisa ekspor Kalmintan Selatan selama ini adalah batu bara, biji besi dan lagi-lag yang berarti bahwa ekspor Kalimantan Selatan lebih banyak mengandalkan eksploitasi kekayaan alam yang sangat membutuhkan kelestarian dan perlu mendapat perhatian khusus.

Kelompok Produk Lainnya
Kelompok ini mengalami penurunan sebesar -72,76% dari US $.485.066.065,72 menjadi US $.132.120.380,77. Adanya penurunan ini disebabkan sebagian besar adanya penurunan ekspor (re-ekspor) atas produk alat-alat berat yang semula merupakan produk impor digunakan sebagai alat produksi oleh produsen dalam negeri.

REALISASI EKSPOR DAERAH KALIMANTAN SELATAN
Januari 2005 s.d Desember 2005 – Januari 2006 s.d Desember 2006

NO. MATA DAGANGAN NILAI US$ %
JAN-DES 2005 JAN-DES 2006
1. Produk Karet Alam 13.916.993,35 94.138.058,29 576,43

2. Produk CPO – 23.119.711,13 -
3. Produk Kayu 329.616.878,16 284.031.466,31 -13,83

4. Produk Rotan 9.871.482,94 8.973.748,78 -9,09
5. Produk Perikanan 6.481.669,13 11.853.931,58 82,88
6. Produk Tambang 1.624.041.695,12 1.701.335.943,18 4,76
7. Produk Lainnya 94.373.801,34 485.006.065,72 413,98
JUMLAH 2.078.302.520,04 2.608.518.924,99 25,51

REALISASI EKSPOR DAERAH KALIMANTAN SELATAN
Januari 2006 s.d Desember 2006 – Januari 2007 s.d Desember 2007

NO. MATA DAGANGAN NILAI US$ %
JAN-DES 2006 JAN-DES 2007
1. Produk Karet Alam 94.138.058,29 144.761.960,53 53,78
2. Produk CPO 23.119.711,13 46.081367,73 99,32
3. Produk Kayu 284.031.466,31 452.900.392,87 59,45
4. Produk Rotan 8.973.748,78 8.011.425M70 10,72
5. Produk Perikanan 11.853.931,58 16.384.420,65 38,22
6. Produk Tambang 1.701.335.943,18 2.158.949.708,49 26,90
7. Produk Lainnya 485.006.065,72 132.120.380,77 -72,76
JUMLAH 2.608.518.924,99 2.959.209.656,74 13,44

5. Pembinaan Industri dan Perdagangan

Pembinaan terhadap perusahaan industri, khususnya Industri Kecil Menengah (IKM) terus dilaksanakan, baik melalui pembinaan manajemen maupun pembinaan langsung melalui pelatihan-pelatihan dan magang yang dilaksanakan melalui Pusat Pelatihan dan Pendidikan Industri Kecil dan Rumah Tangga (Puslatdik IKRT) di Nagar (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) selama kurun waktu 2001-2006 telah dilaksanakan berbagai jenis pelatihan yang mengikut sertakan para IKM dari seluruh Kabupaten/Kota Se-Kalimantan Selatan.

Pusat Pelatihan dan Pendidikan IKRT Nagara (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) telah berhasil memproduksi dan atau merekayasa Alsintan (alat mesin pertanian) yang sangat bermanfaat untuk pembangunan pertanian di Kalimantan Selatan, antara lain memproduksi/merekayasa Alat Mesin Bajak Sawah Berair (Hydrotiller); Alat Pemotong Padi; Alat Pengering Ikan/Kerupuk/Dendeng; Pompa Axial; Alat Pemipil Jagung; Alat Pengupas Kacang Tanah, Mini Rice Mill; Alat Perajang Singkong/Pisang, yang kesemuanya dikerjakan oleh tenaga-tenaga terlatih dari Puslatdik IKRT Nagara.

Pembinaan industri kecil dan menengah khususnya meubel kayu dan furniture rotan, dilaksanakan oleh workshop dan showroom meubel kayu dan rotan Amuntai melalui pelatihan-pelatihan dan magang ke sentra meubel kayu di Pasuruan, Jawa Timur sehingga menambah pengetahuan dan wawasan baik mutu dan desain bagi pengusaha industri kecil meubel kayu yang nantinya diharapkan dapat bersaing. Sedangkan bagi UKm pangan dan kerajinan melalui kegiatan Pelatihan dan Pengembangan Daya Saing Produk Industri Kecil dan Menengah, kegiatan pembinaan yang dilaksanakan berupa bantuan peralatan dan bimbingan teknis, baik mutu produk, kemasan maupun proses produksi yang menggunakan peralatan mekanik sehingga diharapkan kwalitas barang yang dihasilkan menjadi lebih baik dan dapat bersaing di pasaran.

Selain di bidang Industri, di bidang perdagangan dalam rangka upaya peningkatan ekspor non migas, Pusat Pelatihan Promosi Ekspor Daerah (P3ED) sebagai sarana/wadah pendidikan dan pelatihan para UKM, calon eksportir dan importer baik yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan Timur juga melakukan pembinaan kepada dunia usaha khususnya UKM yang mempunyai produk potensial untuk diekspor:
 Menjadikan eksportir daerah yang potensial (berpengetahuan, berketrampilan dan bersikap sebagai wiraswasta tangguh)
 Menjadi sumber informasi ekspor yang akurat dan representative
 Menjadi lembaga promosi ekspor yang efektif
 Menjadi rujukan para importer luar negeri yang mencari produk atau komoditi yang akan diimpornya
 Menjadi lembaga yang mampu memberikan saran tentang pengembangan ekspor bagi instansi lain.

Melalui kegiatan pelatihan-pelatihan tentang prosedur ekspor, sehingga
diharapkan kepada para UKM, calon eksportir dan eksportir akan menjadi eksportir yang handal dibidangnya.

Kegiatan P3ED ini merupakan hasil kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan dengan badan Pengembangan Ekspor Nasional BPEN Departemen Perdagangan dan JICA.

6. Perkembangan UPT Kemetrologian

Sebagai salah atu UPTD dilingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, Kemetrologian telah menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu melakukan kegiatan:
 Pemeriksaan dan pengujian standar massa dan timbangan
 Pemeriksaan dan pengujian standar ukuran arus, panjang dan volume
 Pengawasan dan penyuluhan penggunaan alat-alat ukur, takar, timbangan dan perlengkapannya serta barang-barang dalam keadaan terbungkus
 Pengelolaan cap tanda tera dan sarana kemetrologian

Kegiatan Kemetrologian yang meliputi tera ulang UTTP, Pengawasan UTTP, Penyuluhan Kemetrologian, Pengelolaan Standar milik balai dan kegiatan teknis kemetrologian yang dilaksanakan sampai dengan bulan Desember 2005 penerimaan sebesar Rp.109.884.075,- dari target yang ditetapkan sebesar Rp.100.000.000,- atau 109,88%, sedangkan target pada tahun 2006 sebesar Rp.110.000.000,- sampai dengan Desember 2006 telah terealisasi sebesar Rp.121.891.500,- atau 110,81%, sedangkan target yang ditetapkan pada tahun 2007 sebesar Rp.130.000.000,- dan realisasi penerimaan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebesar Rp.113.554.950,- atau 87,35%, hal ini disebabkan adanya tunggakan wajib tera sebesar Rp.74.000.000,-.

UPT Pelayanan Kemetrologian
PENERIMAAN RETRIBUSI (Rp)

2005 2006 2007
109.884.075 121.891.500 113.540.950
UTTP
45.664 bh 42.039 bh 43.136 bh

7. Perkembangan UPT BPSMB

Sebagai salah satu UPTD dilingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan Balai Pelayanan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) telah menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu melakukan pengujian terhadap beberapa produk ekspor Kalimantan Selatan dan pengujian kalibrasi peralatan laboratorium, yang ditargetkan pada tahun 2005 sebesar Rp.110.000.000,- dan realisasi pada bulan Desember 2005 sebesar Rp.178.742.500,- atau 162,49%, pada tahun 2006 target yang ditetapkan sebesar Rp.130.000.000,- pada akhir bulan Desember 2006 jumlah penerimaan sebesar Rp.237.199.500,- berarti telah terealisasi sebesar 182,46%. Sedangkan untuk tahun 2007 target yang ditetapkan sebesar Rp.140.000.000,- dan sampai akhir bulan Desember 2007 jumlah penerimaan sebesar Rp.205.114.500,- atau 146,50%. Jenis komoditi ekspor yang diuji adalah SIR 20, Batubara, Kayu Lapis, Plastik Kemasan Karet dan Pakan Ternak. Sedangkan yang dikalibrasi antara lain: Suhu, Optik, Gaya, Dimensi, Massa dan Volumetrik.

8. Ekspor dan Impor Kalimantan Selatan

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR KALIMANTAN SELATAN
BULAN APRIL 2009
Nilai ekspor Kalimantan Selatan April 2009 mencapai 295,67 juta US$ atau mengalami penaikan sebesar 23,47 persen dibanding ekspor Maret 2009 yang sebesar 239,55 juta US$. Secara kumulatif nilai ekspor Kalimantan Selatan bulan Januari – April 2009 mencapai 950,52 juta US$. Selama April 2009 ekspor ke Taiwan mencapai angka terbesar yaitu 45,54 juta US$, disusul India 42,42 juta US$.
Komoditi utama penyumbang ekspor April 2009 adalah kelompok barang bahan bakar mineral sebesar 272,22 juta US$, kelompok barang kayu dan barang dari kayu sebesar 13,20 juta US$, kelompok barang kapal laut sebesar 7,86 juta US$, kelompok barang karet dan barang dari karet sebesar 1,10 juta US$, kelompok bijih, kerak, dan abu logam sebesar 0,61 juta US$, dan komoditi lainnya sebesar 0,67 juta US$.
Nilai impor non migas Kalimantan Selatan April 2009 sebesar 14,93 juta US$ atau mengalami penurunan sebesar 69,53 persen dibanding impor Maret 2009 yang mencapai 48,99 juta US$. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya impor kelompok barang kapal laut yang pada bulan Maret 2009 menempati nilai yang sebesar yaitu mencapai 23,53 juta US$.
Secara kumulatif impor non migas Kalimantan Selatan Januari – April 2009 mencapai 326,88 juta US$. Selama April 2009 impor non migas terbesar adalah mesin-mesin/ pesawat mekanik dengan nilai 4,95 juta US$. Negara pemasok barang impor non migas terbesar ditempat oleh India dengan nilai 4,48 juta US$, diikuti Perancis 3,06 juta US$ dan Amerika Serikat sebesar 2,22 juta US$.

8.1. Perkembangan Ekspor Kalimantan Selatan

Nilai ekspor Kalimantan Selatan pada bulan April sebesar 295,67 juta US$ mengalami penaikan sebesar yaitu 23,47 persen dibandingkan dengan bulan Maret 2009 yang sebesar 239,55 juta US$. Secara kumulatif nilai ekspor Kalimantan Selatan bulan Januari – April 2009 mencapai 950,52 juta US$.

Negara utama tujuan ekspor Kalimantan Selatan bulan April 2009 ke utama Taiwan, India, Hongkong, Spanyol, Jepang, Cina, dan Negara tujuan lainnya.

Tabel 1. Nilai ekspor Kalimantan Selatan bulan April 2009 menurut Negara tujuan.MARET 2009 APRIL 2009

NEGARA TUJUAN NILAI (US$) NEGARA TUJUAN NILAI (US$)
Jepang 41,668,203 Taiwan 45,543,566

India 41,118,451 India 42,419,383
Taiwan 24,208,213 Hongkong 35,626,244
Hongkong 20,564,828 Spanyol 31,620,575
Singapura 20,184,991 Jepang 27,794,550
Spanyol 20,014,698 Cina 23,534,187
Cina 14,363,365 Chile 21,673,372
Philipina 14,357,680 Philipina 16,628,935
Thailand 10,977,233 Malaysia 12,098,860
Republik Korea 8,476,315 Thailand 8,745,061
United kingdom 5,069,912 Singapura 7,951,570
Amerika Serikat 4,910,206 Amerika Serikat 5,593,193
Pakistan 4,722,921 New Zealand 5,577,924
Saudi Arabia 2,269,432 United Kingdom 4,831,897
Vietnam 2,241,787 Pakistan 3,026,585
New Zealand 1,904,670 Arab Saudi 1,425,884
Malaysia 1,284,184 Rep.Korea 564,420
Kuwait 358,860 Maroko 261,842
Yordania 191,180 Australia 163,556
Portugal 109,539 Vietnam 116,323
Australia 105,834 Jerman 107,147
Uni Emirat Arab 101,317 Yordania 91,144
Jerman 101,207 Belgia 90,340
Polandia 65,675 Kanada 72,198
Afrika Selatan 38,036 Portugal 63,266
Kanada 31,314 Netherland 40,729
Oman 28,414 Afrika Selatan 10,503
Puerto Rico 26,719
Belgia 21,624
Belanda 14,072
Sri lanka 10,150
Perancis 8,154

Komoditi utama penyumbang ekspor terbesar Kalimantan Selatan bulan April 2009 berdasarkan kode Harmonized System (HS) 2 dijit adalah kelompok barang bahan bakar mineral sebesar 272,22 juta US$, kelompok barang kayu dan barang dari kayu sebesar 13,20 juta US$, kelompok barang kapal laut sebesar 7,86 juta US$, kelompok barang karet dan barang dari karet sebesar 1,10 juta US$, kelompok bijih, kerak, dan abu logam sebesar 0,61 juta US$, dan komoditi lainnya sebesar 0,67 juta US$, dan komoditi lainnya sebesar 0,67 juta US$. seperti nampak pada tabel 2.

Tabel 2. Nilai Ekspor menurut 5 jenis Kelompok Barang/Komoditi Utama.

Maret 2009 APRIL 2009
Nilai Nilai
No. Komoditi (dalam US$) Komoditi (dalam US$)
1. Bahan bakar mineral 203,660,395 Bahan bakar mineral 272,216,716
2. Kayu, barang dari kayu 12,469,559 Kayu, barang dari kayu 13,203,541
3. Kapal laut 11,094,098 Kapal laut 7,864,031

4. Perhiasan/permata 8,970,000 Karet dan barang dari karet 1,103,610

5. Bijih, kerak, abu logam 1,873,910 Bijih, kerak, abu logam 609,929
6. Lain-lain 1,418,222 Lain-lain 675,427

TOTAL 239,549,184 TOTAL 295,673,254

Selain 5 kelompok komoditi utama tersebut pada bulan April 2009 ekspor Kalimantan Selatan juga meliputi kelompok barang jerami/bahan anyaman, kelompok barang ikan dan udang, kelompok barangg garam, belereng, kapur, kelompok barang biji-bijian berminyak, kelompok barang binatang hidup, dan kelompok barang benda dari batu, gips dan semen.

D. MENGUKUR KINERJA PEMERINTAH DARI KEBIJAKAN YANG ADA

Melihat dari keberhasilan program pembangunan yang telah dilaksanakan terlihat cukup menggembirakan, namun tentunya perlu ditelaah lagi mana program yang tercapai dan mana yang mengalami hambatan untuk mendapat gambaran yang jelas mengenai kinerja pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Bersinggungan dengan bidang-bidang pembangunan tersebut maka untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembangunan yang telah dicapai oleh pemerintahan yang ada sekarang, maka perlu diambil parameter penanda keberhasilan yang telah diraih.
Kinerja, istilah kinerja secara konseptual adalah tingkat capaian atas pelaksanaan suatu kegiatan, program , kebijakan dalam mewujudkan sasaran tujuan, visi dan misi organisasi, (Hery Kristianto, 2005:3). Pendapat lain menyatakan Kinerja adalah suatu tingkatan hasil yang telah dicapai, karena telah melakukan aktifitas ataupun kegiatan kerja. (Haryanto, l997).
Ada pula yang memiliki pendapat bahwa kinerja itu merupakan tindakan-tindakan atau pelaksanaan kerja yang hasilnya dapat terukur. Kinerja dalam tulisan ini adalah pencapaian hasil kerja atas pelaksanaan program kegiatan yang telah diprogramkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di provinsi Kalimantan Selatan. Pelaksanaan program tersebut, hasil dapat terukur melalui parameter sebagaimana telah disebutkan di atas tadi.
Dalam hal ini ada 6 parameter pengukuran kinerja atau kemampuan pemerintah yang digunakan penulis, yaitu:
1. Ekstraktif yaitu kemampuan suatu negara atau pemerintah untuk mengelola segala potensi dan sumber daya yang ada/alam untuk meningkatkan pendapatan/inkam perkapita masyarakat.
2. Regulatif adalah kemampuan pemerintah negara/pemerintah untuk mengatur perilaku masyarakatnya agar sesuai dengan hukum positif yang berlaku. Implikasi perilaku tersebut datang atas dasar kesadaran sendiri bukan dari paksaan.
3. Distributif adalah :kemampuan suatu negara atau pemerintahan membagi secara merata sumber kekayaan yang ada di negerinya dengan mekanisme dan cara yang bijak.
4. Simbolik adalah : kemampuan negara atau pemerintahan untuk menjaga atau memelihara simbol-simbol atau martabat bangsa, atau benda-benda yang menjadi simbol suatu daerah.
5. Responsif adalah kemampuan negara atau pemerintah untuk merespon atau memberikan tanggapan atas sesuatu masalah yang sedang dihadapi masyarakat.
6. Regional dan Internasional adalah kemampuan negara atau pemerintah membawa atau mempromosikan keberadaan bangsa ditingkat Nasional maupun Internasional (dalam dan luar negeri).

Bidang regulatif ditunjau dari produk hukum yang dibuat (perda), dalam kasus nyata, tidak semua data dapat digali hanya dengan mengumpulkan catatan-catatan yang tersedia di lembaga pemerintah atau penggalian data melalui dukomen, penggalian data dilengkapi dengan menghimpun pendapat masyarakat. Dalam penghimpunan data tersebut, penulis melakukannya melalui wawancara kepada sejumlah informan yang dianggap mampu memberikan pendapat, ataupun penilaian terhadap kinerja pemerintahan yang ada sekarang dengan mencakup beberapa parameter, sebagaimana disinggung sebelumnya.

1. BIDANG EKSTRAKTIF

Program pembangunan Industri di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan telah diarahkan pada industri-industri yang berbasis pertanian dan pertambangan, yang mampu memanfaatkan hasil-hasil pertanian dan pertambangan secara optimal, memberikan nilai tambah yang tinggi dan mampu bersaing dalam pasar local, regional dan global melalui upaya pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan teknologi dan bioteknologi.
Berdasarkan data perkembangan industri di Provinsi Kalimatan Selatan hingga akhir tahun 2006 mencapai 39.455 unit usaha atau naik sebanyak 6,00% dari 37.222 unit usaha pada tahun 2005 dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 93.771 orang atau naik sebanyak 8.00% dari 86.825 orang pada tahun 2005, nilai investasi mencapai sebesar Rp.143,383 milyar atau naik sebanyak 4% nilai produksi mencapai Rp.590,175 milyar atau naik sebanyak 5,30% dengan nilai bahan baku mencapai Rp.331,093 milyar atau naik sebanyak 4,60% dan nilai tambah mencapai Rp.259,082 milyar atau naik sebesar 6,21% dari nilai tambah sebesar Rp.243,938 milyar pada tahun 2005.
Dari pencapaian sektor perindustrian dan perdagangan merupakan pencapaian hasil yang sangat menggembirakan, dalam arti kata mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Terhadap peningkatan perkembangan industri, banyaknya peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta nilai investasi yang meningkat menunjukkan kemampuan pemerintah menggali atau pengelolaan sumber daya yang ada termasuk dalam kategori sangat baik. Namun demikian, atau dukung terhadap kesuksesan ini tidak terlepas karena sumber daya alam kita yang memang sangat potensial., kaya dan subur.
Selain itu juga, pengembangan industri kecil, menengah dan kerajinan serta industri rumah tangga, perlu lebih didorong dan dibina, menjadi usaha yang makin berkembang dan efesien, sehingga mampu mandiri dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Pemberdayaan pengusaha kecil, menengah dan koperasi disektor industri dilakukan dengan memberikan kemudahan akses dalam permodalan, bahan baku, teknologi, informasi dan pemasaran.
Hal ini terlihat dari perkembangan sektor perdagangan bila dilihat dari jumlah pemegang Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) di Kalimantan Selatan secara kumulatif sampai dengan tahun 2007 sebanyak 27.224 buah Pedagang Kecil (PK) atau naik atau naik sebesar 11,57% dari 24.400 buah pada tahun 2006, Pedagang Menengah (PM) sebanyak 7.927 buah atau naik sebesar 9,45% dari 7.236 buah pada tahun 2006, kemudian Pedagang Besar juga mengalami pertambahan ketiga jenis usaha tersebut Pedagang Kecil mengalami kenaikan paling banyak yaitu sebesar 28.824 buah sedangkan bila dilihat dari prosentasi pertambahan Pedagang Kecil (PK) tetap mengalami kenaikan paling banyak yaitu sebesar 11,57%. Sedangkan bila dilihat dari jumlah keseluruhan jenis Usaha tersebut sampai dengan tahun 2007 sebanyak 37.101 buah atau naik sebesar 11,07% dari 33.402 dari 33.402 buah pada tahun 2006.
Sehingga kinerja pemerintah di Dinas Perindustrian dan Perdagangan dari segi ekstraktif dikategorikan sudah baik.

2. REGULATIF

Masalah sektor regulatif ini sangat terkait dengan bidang hukum. Dalam hal pencapaian sektor regulatif tersebut, pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menetapkan dua sasaran yaitu : terwujudnya masyarakat yang tertib, aman dan demokratis. Sasaran kedua adalah terwujudnya penyelenggaraan sektor pemerintahan yang baik. Dan secara khusus, sasaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan yaitu menghasilkan industri yang memiliki daya saing kuat, berorientasi ekspor didukung oleh perdagangan yang kondusif, menuju masyarakat Kalimantan Selatan yang TERSENYUM (tertib, sejuk, nyaman, unggul dan maju).
Aturan atau perda yang mengatur industri di Kalimantan Selatan, diantaranya: Perda Nomor 2 Tahun 2009 dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2008
Sehingga dapat dilihat, kinerja pemerintah provinsi Kalimantan Selatan dalam menangani masalah regulator secara umum dianggap cukup berhasil, karena menyeimbangkan antara kepentingan pengusaha, pemerintah serta masyarakat. Namun, tingkat partisipasi masyarakat dalam mematuhi peraturan tersebut masih belum kuat, hal tersebut terlihat dari masih banyaknya pelanggaran yang terjadi terhadap pelaksanaan perda tersebut. Untuk meminimalisir hal tersebut, perlu koordinasi dengan pihak lain yang terkait.

3. DISTRIBUTIF

Dalam hal kapabiltas distributif tersebut, pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengagendakan pada terwujudnya Kalimantan Selatan yang sejuk daan nyaman melalui pengembangan norma relegius sesuai dengan budaya kemasyarakatan dan sasaran kedua terwujudnya kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sasaran kapabilitas distrributif tersebut diagendakan diantaranya pada bidang agama, sector dan seni budaya,pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas kelembagaan koperasi
Sejauh ini, penyebaran secara merata industri dan sumber pendapatan yang ada di masyarakat masih belum merata, karena masih ada situasi dimana mengalahkan iklim yang sehat dalam berusaha bagi perilaku ekonomi (koperasi, usaha Negara, usaha swasta) untuk menumbuhkan kegiatan usaha yang mampu menjadi penggerak utama pengembangan ekonomi. Dimana pemilik modal besar masih mengungguli pemilik modal kecil (usaha kecil)sehingga perlunya peningkatkan penanaman modal baik melalui PMA maupun PMDN dengan tetap memperhatikan hak-hak masyarakat setempat, terutama penanaman modal dibidang industri, perdagangan dan jasa. Selain itu, komunikasi, informasi dan promosi didalam maupun diluar negeri dengan bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang ada harus terus ditingkatkan agar iklim industri merata disemua lapisan masyarakat.
Walaupun tidak dapat dipungkiri, mungkin masih banyak program-program yang mengindikasikan bahwa masyarakat Provinsi Kalimantan Selatan belum tersentuh dengan pemerataan pembangunan. Walaupun begitu kita yakin pemerintah pasti memiliki niat baik untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya.
Terlihat, bahwa parameter distrubusi dikatakan kurang begitu baik, melihat kurang seimbangnya distribusi yang terjadi antara pemodal besar dengan masyarakat lokal. Semisal pada contoh tergusurnya lahan pertanian dan hutan rakyat oleh kelapa sawit di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.

4. SIMBOLIK

Salah satu program di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan adalah mengembangkan produk kerajinan yang menjadi salah satu komoditas ekspor Kalsel yang potensial dikembangkan, karena produk ini cukup diminati di pasar dunia sehingga permintaannya cukup besar. Namun produk kerajinan hingga kini masih belum mampu memenuhi permintaan pasar, akibat terkendala dengan masalah desain, kualitas produk dan lainnya, termasuk kesulitan memenuhi permintaan dalam jumlah besar. Padahal produk kerajinan khas Kalimantan Selatan ini bisa menjadi simbol dari Provinsi Kalimantan Selatan.
Selain produk kerajinan, komoditas lain yang potensial dikembangkan adalah produk perikanan dan perhiasan, yang ke depan diharapkan bisa menggantikan kontribusi ekspor dari produk pertambangan, khususnya batubara.
Sebenarnya produk kerajinan asal Kalsel, selain produk karet dan kayu masih belum mampu memperlihatkan angka ekspor yang memuaskan, bahkan tidak terdata, namun kenyataannya produk tersebut dipasarkan ke luar negeri. Karena pemasarannya langsung dibawa pedagang, seperti pemasaran sasirangan di Malaysia dan produk kopiah di Arab Saudi. Dan saat ini, sudah mulai dirintis prosedur ekspornya walaupun masih dalam skala kecil. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel, lewat Pusat Pelatihan Promosi dan Ekspor Daerah (P3ED) juga telah membantu pelatihan bagi UKM, khususnya kerajinan agar bisa memperbaiki kualitas produknya.
Dapat diasumsikan simbol kerajinan Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut secara profesional, tentunya dengan perbaikan kualitas dan kuantitas untuk pasar tidak hanya dalam negeri, tapi tujuan pasar yang lebih luas lagi, yaitu ekspor ke luar negeri sebagai dasar pengembangan produk khas KalSel sekaligus membawa misi pengenalan daerah pada dunia Internasional

5. RESPONSIF

Respon terhadap program-program yang telah terealisasi. Salah satunya pemerintah provinsi Kalimantan Selatan tengah membenahi berbagai infrastruktur antara lain jalan, jembatan serta pengembangan pelabuhan dan bandara, dengan harapan akan menciptakan situasi keamanan yang cukup kondusif juga mendorong tumbuh suburnya investasi Kalsel yang pada akhirnya berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan dan pendapatan daerah maupun masyarakat Kalsel.
Tidak kalah penting, kepastian rencana tata ruang dan wilayah Provinsi (RTRWP), sehingga investor bisa mendapatkan kepastian hukum untuk berinvestasi atau membangun perusahaan. Dengan RTRWP yang jelas diharapkan tidak ada lagi rebutan wilayah atau lahan sebagaimana yang terjadi saat ini.
Krisis ekonomi global ternyata tidak memberikan dampak negatif terhadap perkembangan perekonomian di Kalimantan Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, nilai dan jumlah investor terus bertambah, sehingga potensi investasi masih berpeluang besar untuk dikembangkan.
Selain itu upaya pengembangan promosi yang efektif dan efisien serta melakukan peningkatan Sumber Daya Manusia melalui pelatihan, peningkatan sarana dan membangun jaringan yang bersifat lintas sektoral tetap menjadi program yang dilaksanakan dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan usaha yang kondusif, penyederhanaan perizinan, dan insentif pajak kepada dunia usaha yang baru. Sedangkan bagi pengusaha kalangan menengah dan bawah, diberikan modal usaha bunga ringan ditambah pelatihan keterampilan, bimbingan Manajemen dan Penggunaan Teknologi.
Usaha informal dan tradisional sebagai bagian dari ekonomi rakyat yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat serta merupakan kegiatan ekonomi yang makin luas dipandang perlu terus ditingkatkan dan dibina serta dilindungi agar tetap menjadi unsur kekuatan ekonomi yang mandiri dan maju.

6. REGIONAL/INTERNASIONAL

Saat ini, program-program Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi Kalimantan Selatan sudah dapat diperhitungkan tidak hanya untuk skala nasional, tapi juga internasional.
Terbukti, Kalsel menjadi 9 dari 33 Provinsi di Indonesia yang masuk sesuai kategori Provinsi berpotensi sesuai dengan tiga indikator yang ditetapkan pemerintah yakni mampu meningkatkan Pendapatan Daerah (PAD) atau kinerja keuangan yang selalu meningkat, mampu menekan angka kemiskinan penduduk, dan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. Sehingga Pemerintah Pusat melalui pemberian Invesment Award yang disandang Gubernur, puluhan investor asing dan lokal makin berminat untuk menanamkan modalnya di berbagai bidang usaha.
Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Kalsel tercatat sejumlah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan 16 Penanaman Modal Asing (PMA) Bidang Pertambangan, Perkebunan, Perdagangan dan Gas Bumi siap untuk melakukan investasi di daerah ini.
Total investasi yang bakal ditanamkan 16 perusahaan tersebut mencapai 146,8 juta dolar As dengan lokal yang tersebar di beberapa Kabupaten/Kota di Kalsel. Sedangkan nilai investasi PMDN diperkirakan Rp19,1 triliun.
Tingginya minat investor lokal dan asing ini tidak lepas dengan kondisi keamanan di daerah, sehingga investor merasa terjamin untuk aset yang mereka usahakan
Kalsel merupakan daerah yang berada pada urutan ke delapan penyumbang devisa ekspor nonmigas secara nasional dari tiga puluh dua provinsi se-Indonesia. Hal ini sebagai bukti perekonomian Kalsel yang membawa dampak pada kemajuan daerah, terutama tingkat kesejahteraan masyarakatnya.
Kendati tahun ini volume ekspor seluruh produk pertambangan berkurang, nilai ekspor tetap naik. Pada 2008 periode Januari-September nilai ekspor hanya 2,5 miliar dolar AS dan pada periode yang sama 2009 mencapai 3,1 miliar dolar AS. Masih tingginya nilai ekspor dari pertambangan khususnya, membuat Pemerintah Provinsi Kalsel optimistis mampu mencapai target peningkatan pendapatan dari ekspor hingga 4,5 miliar dolar AS. Selama Januari-September 2009, total nilai ekspor mencapai 3,7 miliar dolar AS atau lebih tinggi dibanding periode yang sama 2009 yang hanya 3 miliar dolar AS. Hal ini dipicu membaiknya harga hasil tambang dan harga minyak dunia.
Akhirnya dari semua parameter pengukuran kinerja pemerintah, penulis melihat bahwa dalam hal pencitraan pemerintah melalui program-programnya masih belum kurang maksimal, karena kurang publikasi dan diinformasikan kepada masyarakat. Walaupun sebenarnya, pemerintah sudah berupaya maksimal demi kemajuan pembangunan, tapi masyarakat tidak mengethauinya, rasanya masyarakat hanya dikondisikan pasif menerima pelaksanaan program pemerintah dan tidak dilibatkan.
Oleh karena itulah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan harus berusaha berperan lebih aktif lagi , lebih intens lagi melakukan publikasi, selain sebagai upaya menyampaikan beragam kebijakan kepada masyarakat, juga sebagai aktualisasi diri dalam pencitraan pemerintah kearah yang lebih baik menyongsong good governance.

Pengukuran kinerja diatas, jika diubah bentuknya kedalam tabel pengukuran kinerja:
No. Kemampuan A = 5 B = 4 C = 3 D = 2 E = 1 Catatan
1. Ekstraktif B Baik
2. Regulatif C Cukup
3. Distributif D Kurang
4. Simbolik B Baik
5. Responsif B Baik
6. Regional/Internasional B Baik

Jika dirata-rata, maka ukuran kinerja pemerintah adalah [4 (B) + 1 (C) + 1 (D)] / 6 = [4 (4) + 1 (3) + 1 (2)] / 6 = 21 / 6 = 3,5. Artinya berdasarkan keenam parameter pengukuran yang ada disimpulkan bahwa kinerja pemerintah sudah cukup baik.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN
Kinerja Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dilihat dari sisi Dinas Perindustrian Dan Perdagangan secara umum cukup baik, Kemampuan dalam merealisasikan program kerja dapat tercapai bahkan dalam beberapa hal tertentu mampu menangkat derajat daerah sehingga tidak tertinggal dengan provinsi lainnya di Indonesia. Namun di bagian lain, pemerintah juga tidak luput dari kelemahannya utamanya dalam hal kapabilitas regulasi. Dimana kemampuan untuk menciptakan ketaatan masyarakat terhadap aturan hukum positif yang berlaku relatif masih rendah. Ini mengakibatkan pada masih tingginya ketidakpahaman akan aturan yang ada. Namun, tak bisa disalahkan sepenuhnya pada Dinas perindustrian, mengingat hal tersebut sudah masuk ke ranah multi bidang yang berkaitan dengan SKPD lainnya di lingkungan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan. Kemudian terdapat pula hal-hal tertentu yang belum mengindikasikan pada pencapaian sebagaimana diharapkan yakni kapabilitas distributive dimana belum meratanya industri dan pendapatan yang ada di masyarakat. Padahal kapabilitas ini sangat urgen terhadap pencitraan pemerintah.
Sisi lain kelemahan dari Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan terhadap upaya pencitraan tersebut adalah masih kurangnya pengaktualisasian program kebijakan melalui media massa. Padahal pengaktualiasasian program merupakan salah satu bentuk pengatualisasian pemerintah dalam membentuk popularitas Pengaktualisasian disini bukan saja pada media lokal tetapi juga pada media nasional, karena diketahui, bahwa media yang banyak menyedot penonton utamanya adalah media nasional (media televisi).

2. SARAN
Masyarakat sekarang adalah masyarakat informasi sehingga media massa merupakan salah satu bagian dalam kehidupan sehari- hari. Berkaitan dengan hal itu maka Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan hendaknya mengoptimalkan media sebagai sarana pengaktualisasian kinerja, evaluasi sekaligus wadah untuk mendapat respon balik dari masyarakat sekaligus pengatualisasian lembaga guna membentuk pencitraan positif di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Barito Post edisi Rabu, 23 Desember 2009

Berita Resmi Statistik BPS Prov. Kalsel No.22/07/63/Th IV, 1 Juli 2009

Haryanto, l997.

Hery Kristianto, 2005:3.

Kalimantan Selatan edisi Senin, 23 Nopember 2009

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2009

About these ads

One response to this post.

  1. Thank you for every other wonderful article. The place else may just anyone get that type of info in such a perfect means
    of writing? I have a presentation subsequent week, and I am on the look for such information.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: